Aku merindui bau ibuku

Aku merindui bau ibuku. Aku juga merindukan bau bapakku. Bau khas yang kukenal sejak aku dalam timangan sampai aku mampu menimang timanganku. Baunya masih sama, bau ketulusan dan peluh tanpa pamrih.

Ada sesal ketika mengingat aku melewatkan harum itu bertahun-tahun bahkan hampir melupakannya. Padahal bau itu tidak pernah memudar, semakin harum disaat aku menggapaikan tangan lemahku tanpa memalingkan mukaku sedikitpun ke arah mereka.

 

 

 

 

Bau ketulusan dan peluh tanpa pamrih Ibu, dengan wajah lelahnya setelah mengajar seharian, mencoba menjadi ibu yang sempurna bagi kami, mendongeng, memasak, dan dengan teladan mandiri nya yang memberi bekal keberanian dan tidak mudah menyerah….bau ketulusan ibu yang selalu memaafkan meski kami sering membuatnya kecewa….

 

 

 

Bau ketulusan dan peluh tanpa pamrih bapak, yang dengan kesederhanaan dan  kejujurannya, mendorong kami untuk mencintai buku dan membaca, dengan perpustakaan kecil yang dibuatnya dan harapan bahwa kami akan tumbuh menjadi seorang pembelajar yang menjadikan setiap waktu adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik lagi….

 

 

 

Sudah lama aku tidak merindu seperti ini. Aku seperti terlena dalam keasikanku dengan dunia baru, dengan bau ataupun aroma yang sangat beragam. Semua menarik untuk dicicipi, terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Hingga akhirnya aku dibangunkan kembali oleh peran baru yang mengingatkanku pada bau khas ibuku dan bapakku. Dan aku begitu merinduinya, bahkan hanya untuk sekedar berada dalam dekapan mereka sesaat, hanya untuk mencium bau mereka….. dan merasakan kenyamanan yang membuatku bersyukur bahwa melalui  mereka lah aku dilahirkan.  

 

Bau ketulusan dan peluh tanpa pamrih yang abadi, yang tercipta dari malam-malam mereka yang selalu dipenuhi oleh doa, dari ketidaklelahan mereka menimangku dan menjagaku disaat jiwa dan hatiku tertidur. Bau abadi yang selalu membawaku kembali pada tujuan hidup ku dan menyemangatiku dengan teladan tulus dan tanpa pamrih.  

 

Bapak, Ibu…terimakasih untuk selalu membantuku berproses menjadi aku yang sekarang ini dan selalu menyediakan diri sebagai tempatku belajar hidup……sungguh, saat ini aku merindui bau ketulusan dan peluh tanpa pamrih yang memberi kehangatan tanpa takut tidak diterima apa adanya………  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~ by Novina Suprobo on June 15, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: