PENYESUAIAN DIRI ANAK TK

Pendahuluan

Sekolah adalah sosialisasi yang paling dapat dilihat dalam suatu kebudayaan dan yang paling memberikan pengaruh bagi pembentukan perkembangan manusia dalam perkembangan rentang hidupnya. Sebanyak 20%-30% populasi usia sekolah (Achenbach dan Eedelbrock,1981: Rubin dan Balow, 1978) mengalami masalah penyesuaian diri yang cukup serius di kelas, yang nantinya menimbulkan kerentanan akan masalah interpersonal, emosional, dan juga karir.

 

Istilah “school adjustment” memang mempunyai banyak definisi, satu diantaranya adalah hasil dari usaha anak untuk beradaptasi dengan tuntutan dari lingkungan sekolah. Usaha untuk beradapatasi ini memerlukan sejumlah ketrampilan sosial sehingga anak mampu menyelesaikan masalah di sekolah, yang diantaranya adalah tuntutan dari guru, dari teman, dan dari lingkungan sekolah.

 

Masalah penyesuaian diri di sekolah menimbulkan efek yang menetap dan bertumpuk-tumpuk; masalah yang muncul pada awal karir sekolah anak sering menjadi masalah yang menetap karena factor sosial-psikologis (misalnya penyimpangan reputasional dan self fulfillment prophecies: tanpa menyadari melakukan sesuatu, orang lalu bertingkah laku seperti yang diharapkan orang lain kepada dirinya untuk bertingkah laku sedemikian) atau memperburuk keadaan saat kesulitan mulai muncul dan menghambat perkembangan selanjutnya.

 

Mempertimbangkan keseriusan masalah ini dan juga dampak yang ditimbulkan bagi individu dan masyarakat, dibutuhkan penelitian mengenai awal penyesuaian diri di sekolah. Singkatnya, ada kebutuhan untuk mempelajari adaptasi awal di sekolah dan untuk mengidentifikasi factor yang memprediksi penyesuaian diri anak pada lingkungan sekolah yang baru.

 

Saat anak mulai sekolah, mereka pasti berhadapan dengan banyak permintaan baru, tantangan baru, negosiasi keas dan sekolah, mempelajari sekolah baru dan juga harapan guru, dan terlebih lagi mendapatkan penerimaan dari kelompok teman sebaya yang baru.

 

Terlebih lagi saat anak berkembang selama satu tahun sekolah, mereka harus berhadapan dengan interpersonal dan tugas kognitif yang semakin banyak. Teori baru-baru ini mengenai kemampuan awal menyesuaikan diri di sekolah (lihat Ladd, 1989) menyatakan bahwa tingkat anak beradaptasi pada tantangan ini dan menjadi nyaman dan berhasil di lingkungan sekolah yang baru, sebagian besar tergantung dari banyaknya support yang mereka terima dari guru, orang tua, dan teman  kelas.

 

Dari dukungan-dukungan yang diterima anak, yang paling potensial dan penting adalah dukungan dari teman kelas. Penelitian menunjukkan bahwa masalah utama anak saat mereka masuk dan berkembang ke jenjang berikutnya adalah hubungan pertemanan. (Levine, 1966; rekeiten, 1961). Kualitas pertemanan anak pada masa ini menentukan kegagalan/keberhasilan  pada masa remaja. Karena pertemanan menjadi sumber pendukung maupun sumber stress bagi anak.

 

Pola perilaku sosial pada masa taman kanak-kanak

Ketrampilan sosial atau bersosialisasi merupakan proses melatih kepekaan diri terhadap rangsangan sosial yang berhubungan dengan tuntutan sosial sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial. Proses perkembangan sosial terdiri dari 3 proses, yaitu sebagai berikut.

  1.  
    1. Belajar bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat.
    2. Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
    3. Mengembangkan sikap sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

Pola Perilaku sosial anak TK adalah kerja sama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, keter-gantungan, sikap ramah, tidak mementingkan diri sendiri, meniru, dan perilaku kelekatan. Maka dari itu, Sasaran pengembangan sosial di TK adalah:

          keterampilan berkomunikasi;

          keterampilan memiliki rasa humor;

          menjalin persahabatan;

          berperan serta dalam kelompok;

          memiliki tata krama.

Materi pembelajaran pengembangan sosial di TK, meliputi cinta dan kasih sayang, empati, afiliasi, identifikasi, disiplin, tolong-menolong dan tanggung jawab.

 

Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Anak Menyesuaikan Diri di Sekolah

 

Kemampuan anak menyesuaikan diri dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah:

n       Atribut anak (umur mental, gender, dan pengalaman berteman sebelumnya)

Anak yang lebih siap masuk sekolah akan melalui proses penyesuaian diri dengan lebih mudah, apalagi bila ada banyak teman yang sudah dikenal sebelumnya masuk pada sekolah yang sama

n       Jenis/tipe hubungan anak dengan teman sekelas (teman dekat, hanya kenal, atau teman baru)

Level berteman juga memberikan pengaruh pada proses penyesuaian diri anak, anak yang mempunyai jumlah teman dekat lebih banyak pada sekolah yang sama akan lebih mudah menyesuaikan diri.

n       Pengalaman pertemanan yang dimiliki anak pada awal masuk sekolah

Pertemanan awal adalah hal yang cukup kritikal pada saat anak mulai masuk TK. Apabila dia merasa nyaman, maka proses penyesuaian diri selanjutnya akan berjalan baik

n       Support dari guru, orangtua, dan teman kelas.

Peran orangtua dalam masa awal masuk sekolah sangat penting. Orantua menjadi pendukung utama yang memberikan rasa aman dan nyaman, dan ini membantu kesiapan anak secara psikis untuk mulai bersekolah. Guru  berperan dalam membantu proses penyesuaian di sekolah berjalan baik dengan mecipatakan ikilim kelas yang kooperatif dan myaman.

 

 

Karakteristik dan Peran hubungan pertemanan anak TK

 

Kualifikasi pertemanan anak TK adalah bahwa teman secara fisik ada dan teman mau bermain. Fokus pertemanan ditujukan pada bermain dan bagaimana bermain dengan menyenangkan. Anak TK mengangap teman sebagai seseorang yang menyenangkan untuk bermain

n       Klasifikasi pertemanan:

  1. bermain dengan beberapa teman secara tetap
  2. Bermain dengan beberapa teman sesekali
  3. Dan tidak bermain sama sekali dengan beberapa teman

 

Peran hubungan anak dengan teman sekelas dalam penyesuaian diri di sekolah

n       Sebagai sumber dukungan tetapi bisa juga sebagai sumber stress

Anak akan merasa nayaman bersekolah apabila dia tahu bahwa dirinya diterima oleh teman-temannya. Namun sebaliknya apabila dia hanya mengenal sedikit teman, dan merasa tidak diterima, teman bisa menjadi sumber stress.

n       Membentuk persepsi anak tentang sekolah

Anak yang punya banyak teman akan mempunyai persepsi tentang sekolah sebagai aktifitas yang menyenangkan.

n       Menentukan tingkat keterlibatan anak dalam kegiatan di sekolah

Anak yang diterima oleh teman akan terlibat dalam kegiatan sekolah lebih banyak daripada yang hanya punya sedikit teman atau bahkan tidak diterima.

n       Menentukan penampilan/pencapaian anak di sekolah

Sekolah yang menyenangkan akan membantu anak dalam memperoleh atau bahkan meningkatkan pencapaian hasil belajar di sekolah.

 

Peran Gender Terhadap Penyesuaian Anak

 

Gender adalah salah satu perbedaan paling jelas yang dapat dilihat anak dalam mengklasifikasikan sesuatu. Anak usia 2 tahun sudah mempunyai pemahaman mengenai perbedaan ini, dan pada umur  3 atau 4 tahun anak sudah bisa membedakan gender secara akurat dengan memahami pelabelan gender pada mainan, aktifitas, pekerjaan rumah, dan bahkan jenis pekerjaan orang dewasa. Mulai dari umur 3 tahun, Pembedaan gender secara konsisten pada pemilihan mainan dan aktifitas bermain tampak jelas dengan anak laki-laki lebih memilih bermain dengan mainan mobil-mobilan, bola, dan balok sedangkan anak perempuan lebih memilih permainan artistik seperti bermain boneka dan berdandan.

 

Konsep perbedaan gender dalam hal personality dan interaksi sosial belum bisa dipahami oleh anak TK dan akan muncul kemudian dalam tahap selanjutnya.

 

 

Permasalahan Sosial pada Anak Usia Taman Kanak-kanak

Beberapa permasalahan sosial pada anak usia TK, yaitu maladjustment, egosentrisme, agresif, dan perilaku anti sosial, seperti negativisme, pertengkaran, mengejek dan menggertak, perilaku sok kuasa, prasangka, serta antagonisme jenis kelamin.  Faktor penyebab terbentuknya perilaku anti sosial, antara lain sebagai berikut.

         Sikap orang tua yang overprotected.

         Sikap orang tua yang suka membandingkan.

         Kurangnya kesempatan untuk bergaul dengan anak lain.

         Pola asuh otoriter.

 

Sering kita lihat ada anak yang belum mau ditinggal oleh orangtua meskipun pelajaran sudah berjalan beberapa minggu. Ada banyak hal yang melatarbelakangi fenomena tersebut, salahsatunya adalah karena anak belum merasa nyaman dengan keadaan dan juga teman baru. Mereka memerlukan waktu tambahan untuk beradaptasi dengan ritme pertemanan dan juga pembelajaran di TK. Dalam hal ini kita perlu mengingat bahwa salah satu tujuan pengajaran di TK adalah melatih kemandirian, dimana anak diharapkan untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri, termasuk tidak tergantung pada kehadiran orangtua selama berada di sekolah. Namun demikian, kemampuan menyesuaikan diri anak berbeda-beda, ada yang tidak bisa terjadi secara spontan dan membutuhkan proses bertahap. Pada awalnya mungkin perlu kehadiran orangtua, sampai akhirnya anak belajar untuk menjadi berani bersekolah tanpa ditunggui orangtua. Penanganan gangguan sosial pada anak usia TK tergantung empat faktor berikut.

         Adanya kesempatan untuk bergaul dengan anak lain.

         Anak diajari berkomunikasi yang beragam.

         Anak punya motivasi untuk bergaul.

         Adanya bimbingan dari orang tua.

 

Peran Guru sebagai aktor dalam membantu penyesuaian diri anak di sekolah

Salah satu keahlian guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak didiknya. Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses pengembangan sosial di antaranya adalah:

n       metode pengelompokan anak; modelling dan immitating; bermain kooperatif; belajar berbagi (sharing).

 

Review Jurnal

 

Having Friends, Keeping Friends, Making Friends, and Being liked by Peers in the Classrooms: Predictors of Children’s Early School Adjustment?

 

 

Abstrak

Peran potensial penyesuaian diri anak dengan teman sekelas diteliti selama 2 bulan pertama di Tk dan sisanya selama satu tahun ajaran. Pengukuran 125 anak mengenai hubungan mereka dengan teman sekelas dilakukan 3 kali: pada saat masuk sekolah, 2 bulan setelah masuk sekolah, dan pada akhir tahun ajaran. Pengukuran penyesuaian diri di sekolah terdiri dari persepsi anak tentang sekolah, kecemasan, perilaku menghindar, dan penampilan anak dilakukan pada assessment kedua dan ketiga. Setelah mengontrol umur mental, jenis kelamin, pengalaman sewaktu di pre-school, pengukuran hubungan anak dengan teman sekelas digunakan untuk memprediksi kemampuan menyesuaikan diri. Hasilnya mengindikasikan bahwa anak dengan jumlah teman sekelas yang banyak selama masa awal sekolah mengembangkan persepsi yang baik tentang sekolah pada bulan yang kedua. Dan anak yang menjaga hubungan baik lebih menyukai sekolah selama tahun ajaran tersebut. Berteman dengan teman baru berhubungan dengan tingkat keberhasilan di sekolah, dan penolakan awal menggambarkan persepsi akan sekolah yang kurang menyenangkan, level tinggi untuk menghindar, dan penampilan yang lebih rendah selama tahun ajaran baru tersebut.

 

 

Tujuan

Studi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai peran potensial hubungan pertemanan anak di kelas pada kemampuan menyesuaiakan diri pada awal dan akhir tahun ajaran.

Metode

Sampel dan waktu

  • Subyek: 125 anak (66 anak laki-laki dan 59 anak perempuan) dari 8 kelas TK di 4 sekolah di Midwestern. 53 orang (28 anak laki-laki, 25 anak perempuan) dari jumlah tersebut telah ikut serta dalam penelitian sebelumnya, yaitu penelitian mengenai transisi dari TK ke sekolah dasar. 72 orang (38 anak lai-laki dan 34 anak perempuan) dari jumlah tersebut adalah anak yang berada dalam 1 kelas dan menyelesaikan TK pada tahun yang sama.
  • Karakterisitik khusus: subyek berasal dari kalangan menengah orang kulit putih dan semuanya baru bergabung di TK untuk pertamakalinya: gedung baru dan kelas baru.
  • Waktu : Persetujuan orangtua diperoleh untuk menilai hubungan anak dengan teman dan penyesuaian diri di sekolah y ang dilakukan 3 kali:
    1. tahun ajaran baru (akhir agustus),
    2. 2 bulan setelah tahun ajaran baru (akhir oktober),
    3. dan akhir tahun ajaran baru (akhir april dan awal mei)

 

Prosedur, Instrumentasi, dan Pengukuran

 

A.                Tahun Ajaran Baru (school entrance)

Data demografi dan pengalaman sekolah

·         Kuesioner dikirimkan melalui pos kepada orangtua anak pada permulaan tahun ajaran baru untuk mengukur umur kronologis anak, jenis kelamin, dan pengalaman sekolah sebelumnya.

·         Perkiraan pengalaman sekolah sebelumnya diukur dengan menghitung jumlah hari (5-8 jam penuh) berdasarkan kehadiran yang dilaporkan semasa preschool. Penyesuaian dibuat untuk faktor-faktor kehadiran yang diperpanjang, jumlah, dan lama sesi kelas setiap minggu.

 

Identifikasi pertemanan sebelumnya

  • Roster teman sekelas pada Tk dimasukkan dalam kuesioner dan orangtua diminta untuk mendiskripsikan tipe hubungan yang dipunyai anak mereka dengan setiap teman sebelum tahun ajaran baru (teman dekat, teman, kenalan, teman yang tidak begitu dekat)
  • Dalam kuesioner yang sama, orang tua juga diminta untuk mendiskripsikan durasi lama pertemanan tersebut (dalam bulan)
  • Instruksi untuk mengklasifisikan dan memperkirakan durasi hubungan pertemanan disediakan dalam roster tersebut. Misalnya: pertemanan dimana anak menunjukkan pengaruh yang positif, dipilih paling banyak oleh teman.
  • Hasil: laporan orangtua mengenai pertemanan anak terbukti reliabel dan akurat (ladd&Emerson, 10984: Ladd&Golter,1988;Ladd&Price,1987). Signifikansi juga ditunjukkan pada tipe hubungan pertemanan, yang menyatakan bahwa secara signifikan, teman dekat mempunyai durasi  waktu pertemanan lebih lama dari teman sekunder, dan teman sekunder mempunyai durasi waktu yang lebih lama dari kenalan.
  • Skor jumlah dekat teman dekat, teman ”lain”, dan kenalan pada kelas anak sewaktu mereka mulai sekolah dibuat dengan menjumlahkan jumlah teman berdasarkan kategori yang sudah dibuat oleh orangtua pada roster tersebut.

 

B.                2 Bulan Pertama

Umur Mental

Subyek melakukan The peabody Picture Vocabulary Test (PPVT; Dunn & Dunn, 1981) secara individual di tempat tersendiri selama 2 bulan pertama setelah masuk sekolah. Tes ini dilakukan oleh penguji yang terlatih. Tes ini menghasilkan skor umur mental yang reliabel dan berkorelasi baik dengan ukuran ketrampilan yang lain.

 

Pertemanan di kelas dan Status Peer (Pertemanan)

·         Asisten yang terlatih melakukan wawancara individual mengenai pertemanan dan sosiometri dengan teman sekelas anak pada akhir oktober di sebuah tempat pribadi. Selama wawancara, anak ditunjukkan foto teman kelas secara random dan diminta untuk menyebutkan nama teman tersebut.

·         Nominasi suka atau tidak suka (see Asher, Singletown, Tinsley, and Hymel, 1979) diperoleh dari meminta anak untuk menyebutkan 3 teman yang dipilih (”teman yang disukai untuk bermain di sekolah) dan 3 orang teman yang tidak disukai (”teman yang tidak disukai untuk bermain di sekolah).

·         Nominasi pertemanan yang tidak terbatas diperoleh dengan meminta anak untuk menunjuk foro teman baik mereka.

·         Nominasi pertemanan dengan teman dan guru digunakan untuk mengidentifikasi teman sekelas anak selama 2 bulan pertama. Teman sekelas adalah mereka yang:

  •  
    1. dinominasikan oleh subyek sebagai teman baik dan teman yang pada gilirannya diniminasikan oleh subyek sebagai teman dalam interview sosiometri.
    2. dinominasikan oleh guru sebagai teman subyek dalam roster kelas. Pertemanan yang didefinisikan disini dibandingkan dengan pertemanan yang diidentifikasikan oleh orangtua pada saat masuk sekolah. (teman dekat dan teman lain digunakan untuk menentukan jumlah teman sebelumnya yang sudah terjalin dengan jumlah teman baru yang yang dibentuk ataupun dijalin selama dua bulan pertama di sekolah.
    3. Skor untuk pertemanan yang masih terjalin adalah jumlah teman kelas yang diidentifikasikan oleh subyek sebagai teman subyek pada kedua waktu assesment, skor untuk pertemanan baru adalah jumlah teman kelas yang tadinya tidak kenal yang diklasifikasikan sebagai teman subyek pada assesment yang kedua.
    4. Nominasi suka dan tidak suka digunakan untuk mengukur status pertemanan anak selama 2 bulan sekolah. Skor pilhan sosial ini dihitung pada tiap anak dengan mengurangi standar nominasi positif dari nominasi negatif (lihat Coie, Dodge, and Coppoteli, 1982).

 

Penyesuaian awal di Sekolah

·   Data mengenai penyesuaian awal di sekolah diperoleh dari guru, anak, dan orang tua selama 2 bulan pertama di sekolah. Guru mengisi ”Preschool Behavior Quesioner” (PBQ;Behar, 1977) dan California Preschool Social Competence (CPSC; levine, Elzey, Lewis, 1969)” yang dilakukan dengan urutan yang berimbang pada akhir oktober. PBQ mengukur perilaku kelas mengenai kecemasan-ketakutan dan hiperaktif-membuat kacau dan pengukuran ini terbukti menghasilkan skor yang reliabel untuk anak TK dan preschool (Rubin&Clark, 1982). Demikian pula pengukuran CPSC menghasilkan skor untuk untuk kompetensi akademik yang secara internal konsisten dan cukup stabil untuk anak TK dan preschool.

·   Guru menggunakan catatan harian untuk mencatat kehadiran siswa dan jumlah permintaan kunjungan ke perawat selama 2 bulan pertama. Kesiapan sekolah anak diukur dengan Metropoltan Readiness Test – Form (MRT, harcourt brace & Jovanovich) secara berkelompok oleh guru di setiap kelas selama oktober akhir.

·   7 observer yang terlatih dan penentuan yang reliabel mengumpulkan data mengenai perilaku anak di kelas melalui 15-30 menit wkatu bermain bebas yang dijadwalkan dua atau tiga kali per minggu selama 2 bulan pertama. 5 dari observer tersebut bertugas untuk mendokumentasikan perilaku cemas anak (lihat Ladd, Price 1987; Rubin, 1984), seperti:

1.      immobile (diam di tempat) : menunjukkan tidak bergerak

2.      rocking (bergoyang-goyang): ke depan dan ke belakang dalam posisi duduk maupun berdiri

3.      shuffling :gerakan kaki yang berulang-ulang sewaktu berdiri

4.      Sucking(menghisap): jari di mulut

5.      automanipulation: berlebihan, manipulasi rambut atau bagian tubuh lainnya secara berulang-ulang

·   Tingkat menghindari sekolah selama 2 bulan pertama diperoleh dari orangtua. Pertanyaan-pertanyaaan tersebut dimasukkan dalam kuesioner untuk orangtua (”pagi hari sebelum sekolah, seberapa sering anak anda mengungkapkan kekawatiran dan keraguan pergi ke sekolah?”). Orangtua diminta untuk mengulur jawaban dengan skala 1 (jarang terjadi) – 5 (sering terjadi).

 

Perilaku menghindari dan kecemasan terhadap sekolah

2 ukuran kekawatiran sekolah dan 3 ukuran perilaku menghindari sekolah diperoleh dari data yang diambil dari guru, observer, dan orangtua.

Ukuran kecemasan anak akan sekolah diambil dari:

  1. Jumlah nilai yang diberikan guru pada pengukuran kecemasan-ketakutan dengan PBQ
  2. Jumlah total scan yang dilakukan obeserver untuk mengkodekan 1 dari ³ tipe perilaku cemas

Ukuran perilaku menghindari sekolah dihitung dari:

  1. jumlah kehadiran
  2. Jumlah permintaan perawatan tiap anak
  3. Jumlah nilai dari orangtua untuk perilaku menghindari sekolah

 

Persepsi Terhadap Sekolah

3 pengukuran persepsi anak terhadap sekolah diambil dari ”School Sentiment Inventory” (SSI; boga et al, 1980; Ladd & Price, 1987). Anak diwawancara secara individual pada waktu tambahan pada akhir Oktober untuk menyelesaikan 32 item SSI. Setiap pewawancara membacakan setiap item keras-keras dan anak menjawab dengan ”ya” atau ”tidak”. Pertanyaan dibagi dalam 3 kategori:

1.       Suport Guru yang dirasakan anak: ”Guruku mendengarkan apa yang saya katakan”

2.       Sikap anak terhadap kegiatan sekolah: ”Saya suka menyanyikan lagu di sekolah”

3.       Suka/tidak Suka terhadap sekolah: ”sekolah itu menyenangkan”

 

Perilaku dan Pencapaian Akademik

Pengukuran penampilan anak di sekolah diambil dari 3 sumber:

  1. Tingkat perilaku akademik anak diperoleh dari guru dengan menggunakan CPSC untuk mengukur penguasaan tugas anak.
  2. Penilaian Perilaku Hiperaktif-mengacaukan diperoleh dari PBQ
  3. Jumlah total skor anak pada MRT digunakan untuk mengukur kesiapan sekolah atau prestasi anak.

 

C. Akhir Tahun Ajaran

·         Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi anak dengan teman sekelas dan penyesuaian anak di sekolah selama 2 bulan pertama dilakukan kembali di akhir tahun ajaran menggunakan prosedur dan penguji yang sama.

·         Data dari instrumen sociometri untuk teman dan guru: PBQ, CPSC,MRT (Form Q), SSI dan kuesioner perilaku menghindari sekolah dikumpulkan pada akhir bulan April dan awal Mei.

·         Data mengenai kehadiran anak, permintaan perawatan, dan perilaku cemas di kelas dikumpulkan selama 2 bulan terakhir pada tahun ajaran

·         Pengukuran pertemanan anak pada tahun ajaran dibuat menggunakan prosewdur yang sama seperti yang dilakukan pada 2 bulan pertama sekolah.

·         Skor untuk pertemanan yang tetap terjalin adalah jumlah teman yang di idientifikasi sebagai teman subyek pada bulan Agustus, Oktober, dan Mei.

·         Skor untuk teman baru adalah jumlah teman yang di identifikasika sebagai teman di bulan Mei tetapi tidak pada awal atau bulan kedua sekolah.

 

Hasil

  • Pembuatan Komposit Penyesuaian Diri di Sekolah

Dari hasil penghitungan statistika, 4 komposit ukuran penyesuaian diri di sekolah dibuat dengan menstandarisasi dan menjumlahkan skor, yaitu: persepsi sekolah (dari subskala SSI, kecemasan akan sekolah (dari PBQ dan ukuran observasi kecemasan), menghindari sekolah (kehadiran, permintaan perawatan, dan laporan orangtua) dan penampilan di sekolah (pengukuran CPSC penguasaan tugas, PBQ hiperaktif-kacau, dan MRT).

 

  • Mempunyai teman dan kenalan di kelas baru

Perhitungan statistika ditujukan untuk mengetahui apakah penyesuaian diri awal di sekolah dan perubahan pada penyesuaian diri selama satu tahun ajaran dapat diprediksikan dari atribut anak (umur mental, gender, pengalaman preschool) dan hubungan sebelumnya dengan teman sekelas pada saat masuk sekolah (jumlah kenalan, teman lain, dan teman dekat di kelas yang baru). Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

·         Persepsi sekolah

Hasilnya signifikan antara persepsi sekolah yang dimiliki anak pada awal masuk sekolah dan perubahan pada persepsi sekolah yang dimiliki anak pada selanjutnya. Artinya, jumlah teman lain dan teman dekat di kelas baru menentukan persepsi sekolah yang menyenangkan pada bulan kedua di TK.

·         Kecemasan sekolah dan Menghindari sekolah

Pengaruh Kecemasan yang dialami anak di awal masuk sekolah dan perilaku menghindari sekolah tidak signifikan. Artinya kecemasan tersebut tidak berpengaruh pada perilaku menghindari sekolah.

·         Penampilan Anak di sekolah

Anak dengan skor umur mental lebih tinggi dan pengalaman preschool yang lebih banyak berpenampilan lebih baik pada bulan kedua dis ekolah dan umur mental juga menentukan penampilan anak selama satu tahun ajaran tersebut.

 

  • Menjaga pertemanan dan Menambah teman selama satu tahun ajaran

Analisa statistika dilakukan untuk menguji hipotesa mengenai hubungan antara pertemanan anak di kelas dan penyesuaian diri anak di sekolah pada bulan Oktober:

  •  
    1. Pertemanan yang dipunyai sebelumnya dan pertemanan baru selama bulan-bulan awal adaptasi menentukan penyesuaikan diri selama satu tahun ajaran tersebut. Atau
    2. Adaptasi awal di sekolah menentukan perubahan dalam menjaga pertemanan dan membuat pertemanan baru selama tahun ajaran tersebut.

 

·         Prediksi perubahan dalam penyesuaian diri di sekolah

Perhitungan statistika ditujukan untuk mengetahui adanya perubahan komposit penyesuaian diri di sekolah dari bulan Oktober sampai akhir tahun ajaran (May), yang diprediksikan dari atribut anak (umur mental, gender, pengalaman preschool), jumlah teman yang dipunyai sebelumnya, dan jumlah teman baru (oktober) . Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

 

a.      Persepsi sekolah

Analisa statistika menunjukkan bahwa anak yang mempunyai pengalaman preschool lebih luas dan anak yang cenderung menjaga pertemanan yang dipunyai sebelumnya selama 2 bulan pertama di TK memandang/menilai sekolah menyenangkan selama tahun tersebut.

b.      Kecemasan sekolah dan perilaku menghindar

Tidak ditemukan adanya kecemasan sekolah dan perilaku menghindar, baik dari sisi atribut anak maupun variabel pertemanan.

c.      Penampilan Sekolah

Penampilan sekolah yang baik ditentukan oleh umur mental anak dan jumlah pertemanan baru selama 2 bulan pertama di TK. Kontribusi signifikan diperoleh dari jumlah teman baru anak.

 

d.      Prediksi Perubahan Dalam Pertemanan di kelas

Analisa statistik digunakan untuk memprediksi perubahan pada pertemanan yang dipunyai anak sebelumnya dan pertemanan baru. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

·         Pertemanan yang dimiliki sebelumnya

2 komposit penyesuaian diri sangat signifikan terhadap perubahan pertemanan di kelas, yaitu:

         anak yang mempunyai persepsi sekolah yang menyenangkan di bulan oktober cederung untuk memelihara pertemanan yang sudah dipunyai sebelumnya selama tahun ajaran tersebut.

         Anak yang menunjukkan tingkat perilaku menghindar sekolah lebih rendah pada 2 bulan pertama cenderung untuk memelihara pertemanan yang dimiliki sebelumnya.

 

  1.  
    • Pertemanan Baru

Tidak ada hubungan yang signifikan antara komposit penyesuaian diri yang diukur bulan oktober dengan perubahan pada pertemanan baru anak pada tahun ajaran tersebut.

 

·         Status Teman Sebaya di Kelas

Analisa statistik dilakukan dengan tujuan untuk menentukan apakah:

“status teman sebaya awal (Oktober) menentukan perubahan dalam penyesuaian diri dan apakah penyesuaian diri awal (Oktober) memprediksi perubahan dalam status teman sebaya selama tahun ajaran tersebut”

 

a.      Prediksi perubahan dalam penyesuaian diri di sekolah

Analisa statistik menunjukkan adanya signifikansi anatara status pertemanan/teman sebaya dengan 4 komposit penyesuaian diri. Status pertemanan awal berpengaruh pada perubahan persepsi sekolah, perilaku menghindar dan penampilan di sekolah. Misalnya, anak yang status pertemanannya rendah mempunyai persepsi sekolah yang kurang menyenangkan, level menghindar sekolah lebih tinggi, dan penampilan di keas juga lebih rendah daripada anak yang status pertemanannya awalnya tinggi.

b.      Prediksi Perubahan dalam status pertemanan

Komposit penyesuaian diri tidak signifikan dengan skor status pertemanan.

c.        Perbedaan dalam penyesuaian diri di skeolah untuk kelompok status pertemanan

Dalam studi ini penulis juga meneliti mengenai penolakan oleh teman dan hubungannya dengan penyesuaian diri di sekolah. Hasilnya adalah anak yang tertolak mempunyai persepsi sekolah yang kurang menyenangkan, secara signifikan juga menunjukkan perilaku menghindari sekolah lebih tinggi, dan penampilan di sekolah lebih rendah dariapada anak yang populer, anak rata-rata, dan anak yang kurang diperhatikan.

 

Pembahasan

Studi ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman mengenai adaptasi awal disekolah, dan khususnya untuk menguji hubungan antara hubungan pertemanan anak di kelas dan penyesuaian diri anak. 2 hipotesis yang diajukan:

1.      atribut personal anak (pengalaman formatif dan karakteristik personal anak yang dibawa ke sekolah) dan hubungannya dengan teman sekelas adalah faktor penting yang menentukan adaptasi awal mereka disekolah.

2.      Keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri di lingkungan sekolah yang baru menentukan kualitas pertemanan mereka di kelas.

Meskipun hipotesa diatas terbukti konsisten, hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwa hubungan awal dengan teman sekelas adalah penentu penyesuaian diri anak selanjutnya.

 

Dari penemuan studi ini ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

1.      Adanya keuntungan maupun juga resiko dari teman kelas tergantung pada jenis hubungan yang anak bina di kelas. Maka dari itu, sangatlah pening untuk mempertimbangkan berbagai macam jenis tipe hubungan pertemanan di kelas yang mempengaruhi bentuk-bentuk penyesuaian diri tertentu.

2.      Pertemanan yang dimiliki anak sebelumnya dapat menjadi sarana atau alat penting bagi anak untuk lebih merasa familiar dengan sekolah baru. Anak yang memasuki sekolah baru mungkin akan merasa lebih nyaman ketika bertemu dengan teman yang sudah dimiliki sebelumnya.

3.      Akses teman dekat pada awal masuk sekolah juga menjadi hal penting yang dapat mendukung pembentukan persepsi sekolah yang positif.

4.      Jumlah pertemanan yang dimiliki sebelumnya, baik teman dekat tau tidak, tidak menunjukkan signifikansi dengan tingkat kecemasan anak, perilaku menghindar, maupun penampilan anak pada bulan kedua di sekolah, namun demikian jumlah pertemanan anak ini berpengaruh pada bagaimana anak berpikir dan merasakan sekolah mereka yang baru daripada bagaimana anak berperilaku maupun keberhasilan disekolah.

5.      Pertemanan yang stabil menjadi sumber dukungan emosional bagi anak dalam menghadapi tuntutan sekolah yang semakin meningkat.

6.      anak yang mempunyai pertemanan baru lebih banyak di kelasnya cenderung untuk berpenampilan baik dalam tahun sekolah tersebut. Teman baru ini tidak hanya menjadi sumber dukungan baru bagi anak tetapi juga menjadi lingkungan akademik yang membantu anak belajar dan berprestasi.

7.      Brofenbenner (1979) juga menyatakan bahwa anak akan belajar lebih baik apabila mereka ditemani oleh rang yang mereka kenal.

8.      Status pertemanan juga menjadi pemicu adanya perbedaan pertemanan di dalam kelas yang dapat mengarah pada penolakan beberapa anak dalam lingkup pertemanan. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa penolakan menjadi stressor bagi anak dalam lingkungan sekolah. Keadaan seperti ini mempengaruhi penyesuaian diri anak di sekolah. Mereka yang tertolak cenderung mempunyai persepsi sekolah yang kurang menyenangkan.

9.      Anak yang tertolak di awal sekolah akan mempunyai kesulitan dalam memilih teman bermain dan akibatnya anak akan berganti-ganti kegiatan untuk mencari teman.

10.  Atribut anak (umur mental dan pengalaman preschool sebelumnya) berpengaruh pada tingkat perilaku akademik dan kesiapan sekolah. Skor umur mental juga berpengaruh pada penampilan di sekolah selama tahun ajaran tersebut.

11.  Lama pengalaman sekolah sebelumnya yang dipunyai anak menentukan perubahan dalam menilai sekolah. Anak yang pengalaman sekolahnya lebih lama akan mempunyai penilaian positif terhadap sekolah.

12.  Pendeknya, Penyesuaian awal disekolah dipengaruhi oleh dua hal:

  1.  
    • Adanya fungsi atribut anak yang dibawa ke sekolah baru
  1.  
    • Adanya tipe hubungan pengalaman anak selama mereka mengahadapi situasi ini.

Jadi, atribut personal anak, pengalaman sekolah sebelumnya, dan hubungan dengan teman sekelas mempengaruhi kemajuan adaptasi di sekolah.

 

13.  keberhasilan anak dalam penyesuaian diri di sekolah akan  berpengaruh pada hubungan mereka dengan teman sekelas.

14.  Penyesuaian diri yang buruk khususnya kecenderungan untuk menghindari sekolah akan mengurangi kesempatan anak untuk memelihara dan menjaga hubungan pertemanan mereka. Anak yang banyak tidak masuk sekolah atau menghabiskan waktunya diruang perawatan hanya memiliki sedikit kesempatan bermain dnegan teman.

15.  anak yang punya masalah dengan penyesuaian diri akan  menjadi kurang mandiri dan kurang dewasa daripada teman-temannya, sehingga anak tersebut menjadi kurang trampil dalam memelihara hubungan pertemanan.

 

 

Kesimpulan: Implikasi untuk para pendidik

Penemuan dalam studi ini mungkin bisa digunakan sebagai ide untuk:

  1. membuat kebijakan sehubungan dengan komposisi kelas di TK
  2. lebih memperhatikan pola pertemanan anak pada awal sekolah
  3. mempertimbangkan pengelompokan teman untuk memaksimalkan kontak dengan teman yang dimiliki sebelumnya pada awal sekolah.
  4. mendesain teknik mengajar yang memungkinkan anak untuk memelihara pertemanan yang sudah ada dan membentuk pertemanan baru dan juga untuk mencegah penolakan awal di lkelas.

 

 

Daftar Pustaka

 

Monks, F.J- Knoers, A.M.P, Siti Rahayu, 2000,  Psikologi Perkembangan Dalam Berbagai Bagiannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

 

Santrock, 2003, Life Span Development-Perkembangan Masa Hidup,  McGraww Hill College, Boston

 

www.ut.ac.id/perkembangaan sosial emosi pada taman kanak-kanak/diakses pada tanggal 11 maret 2008.

~ by Novina Suprobo on June 15, 2008.

2 Responses to “PENYESUAIAN DIRI ANAK TK”

  1. wah,,isinya sangat bermanfaat…
    bagaimana dengan penyesuaian diri pada remaja?
    ada perbedaan antara individu yang normal dgn yang brkebutuhan khusus ga?
    thanks..
    o ya, buku apa aja ya yang bagus untuk referensi ttg penyesuaian diri?

  2. mau nanya.. penyesuaian dirinya pake teori siapa n buku apa ya? kebetulan saya mau bikin skripsi tentang itu. makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: