Anak Pasca Bencana, Dampak, Deteksi Dini, Faktor Resiko, Intervensi Dan Prevensi

Ilustrasi: Derita Bayi, Balita, dan Ibu Hamil di Sebuah Pengungsian

Kamis, 5 Februari, 2004 oleh: Siswono.Gizi.net – BAYI perempuan itu tertidur pulas di lantai. Tidak ada bantal yang mengganjal kepalanya. Juga tidak ada kasur, kecuali plastik tipis sebagai alas tidurnya. Sebuah sarung hasil tenun ikat daerah Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, menyelimuti separuh tubuhnya ke bawah. Wajah bayi itu tampak lebih tua tiga atau empat bulan meski sebenarnya masih berusia sembilan bulan. TIBA-tiba badannya menggeliat. Entah karena suara bising di sekitarnya, lantai yang dingin, atau gangguan lalat. Dua gelang gading yang melingkari tangan kanannya pun gemerincing. Dia membalikkan tubuhnya ke kiri, lalu kembali nyenyak. Ibunya, Hendrawati (20), sibuk mengusir gerombolan lalat yang selalu berusaha hinggap di wajah sang bayi. Nelsi, begitu Hendrawati menyebut nama bayi pertamanya itu, bersama ratusan bayi lain terpaksa mengungsi ke Maumere bersama orangtuanya, menyusul letusan Gunung Egon di Kabupaten Sikka. Nelsi, ibunya, dan ayahnya, Adrianus Arno (25), ditampung di bangsal Lazarus, Maumere, kota Kabupaten Sikka.Meski jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pada hari Selasa (3/2) kemarin, Nelsi belum juga bangun. “Biasanya Nelsi bangun jam tujuh atau lewat sedikit, mandi dan langsung makan. Dua hari ini nafsu makannya berkurang, tetapi dia tetap sehat, tidak sakit seperti bayi lainnya. Hanya saja badannya agak menyusut,” kata Hendrawati dalam logat Sikka. Di desa asalnya di Hebing, salah satu dari empat desa yang dikategorikan dalam status Siaga I, Nelsi biasa dikasih bubur dengan kuah ikan, ikan atau daging atau telur ayam. Meski diolah secara sederhana oleh orangtuanya, dia bisa makan secara rutin tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam), yang biasanya disuapkan secara bergantian oleh ibu dan neneknya, Maria Eusebia (40).

 

Menu seperti itu tidak ditemukannya lagi di lokasi pengungsian sejak Jumat 30 Januari lalu, begitu Nelsi dan seluruh anggota keluarganya tiba di Maumere. Tidak ada perbedaan lagi dalam hal makan. Dia terpaksa harus makan nasi, mi, dan ikan kering yang sama dengan porsi orangtuanya dari dapur umum yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Sikka.
“Terkadang dia tidak mau makan. Meski sudah dimasukkan ke mulut, nasi dikeluarkan lagi. Saya sering menyusui, tetapi setelah di penampungan seperti ini air susu menjadi kering. Saya kasihan, sampai menangis kalau melihat Nelsi tidak makan atau kalau air susu saya kering. Sebab, kami hanya makan nasi, mi, atau ikan kering,” kata Hendrawati.
Tubuh Siska, bayi tujuh bulan anak Rosalia Grasela (30), misalnya, sempat panas dan menangis tidak henti-hentinya sampai ibunya sempat stres. Setelah mendatangi petugas kesehatan di pos pelayanan kesehatan di lokasi penampungan, bayi itu diketahui masuk angin dan perutnya kembung. Setelah diobati, beberapa jam kemudian sembuh.

Menurut Rosalia, anaknya itu biasanya hanya diberi air susu ibu (ASI). Dalam dua hari belakangan ini perilakunya berubah. Disusui malah tidak mau. “Saya juga bingung. Mau kasih bubur, saya mau ambil dari mana? Juga sebelumnya tidak pernah diberi bubur, kecuali ASI. Ternyata air susu saya rasanya tawar, keruh, dan tidak kental,” kata ibu dari (bayi) Siska ini.


Bayi, balita, serta wanita hamil dan menyusui ini menjadi sasaran empuk berbagai jenis penyakit yang saat ini mewabah di kalangan pengungsi. Kekurangan gizi memicu turunnya imunitas atau tingkat kekebalan tubuh terhadap penyakit. Hingga Selasa siang lalu sudah 34 orang masuk rumah sakit, rujukan dari pos pelayanan kesehatan di lokasi penampungan.

Sebagian terbesar tetaplah kelompok bayi, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Bahkan seorang ibu hamil sampai keguguran setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere.


DI 13 lokasi penampungan di Maumere kini tercatat 171 bayi (khususnya berusia 6-11 bulan), 609 balita (usia 1-5 tahun), serta 230 ibu hamil dan menyusui yang terancam rawan gizi. Bupati Sikka Alexander Longginus pun mengaku, penanganan terhadap kelompok bayi, balita, serta ibu hamil dan menyusui itu harus diutamakan dalam penanganan pengungsi…………………………


Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/utama/836651.htm

 

 

Pendahuluan

 

Belum kering luka gempa bumi berkekuatan 8,9 skala richter yang disusul tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Belum juga terasa kinerja yang memuaskan bagi kalangan pemerhati perkembangan pembangunan Aceh pasca bencana. Indonesia kembali harus menerima bencana yang cukup dahsyat di kota Yogyakarta dengan sebutan kota pelajar yang sarat budaya, dan bencana-bencana lainnya Katrina di Amerika, tycoon di Myanmar dan juga gempa di cina yang terjadi secara beurutan.

 

 Fenomena gempa bumi selama kurun waktu 5 tahun terakhir menjadi perbincangan yang menarik dan tidak menjadi pembicaraan yang tabu ditelinga masyarakat. Fenomena yang setiap kali terjadi memungkinkan banyaknya korban jiwa yang direnggut. Bukan puluhan atau ratusan melainkan ribuan hinga ratusan ribu nyawa manusia.

 

Sumber bencana bisa berasal dari alam, seperti banjir, kebakaran, angiun topan, dan gempa bumi, bisa juga berasal dari kecelakaan teknologi, seperti kecelakaan pesawat, minyak tumpah, pembuanagn bahan kimia, terorisme maupun perlakuan kekerasan. Kemunculan bencana ini bisa terjadi secara perlahan tetapi bia juga secara tiba-tiba bahkan tidak terduga. Kesamaannya adalah bahwa bencana berpotensi untuk mengakibatkan gangguan dalam masyrarakat secara meluas, seperti pengungsian, kehilangan sumber nafkah, kerusakan property, kematian dan luka fisik, dan juga penderitaan emosi.

 

Resiko becana ini dalam kemunculannya secara global adalah sesuatu yang dihasilkan secara kompleks dari gabungan factor lingkungan, demografi, teknologi, dan kondisi sosial ekonomi. Perubahan cuaca dan degradasi lingkungan, perkembangan populasi, meningkatnya urbanisasi, pembangunan yang tidak berkesinambungan di daerah rawan bencana, teknologi yang berisiko, kesenjangan sosial ekonomi mempunyai peran yang besar dalam peningkatan jumlah bencana alam secara dramatis. (Perrow 2006; Swiss Re 2007). Jumlah bencana alam yang tercatat secara global meningkat dari 100 pada tahunn 1975 menjadi lebih dari 400 di tahun 2007 (UNHABITAT 2007).

 

Tidak terhitung jumlah kerusakan dan kerugian materi serta korban jiwa. Lebih dari 255 juta orang pertahun terkena dampak dari bencana (Conference on Disaster Reduction 2005). Meskipun bencana terjadi secara global tetapi dampaknya tidak terdistribusi secara merata, dengan 98% mengenai penduduk di Negara berkembang (UN-HABITAT 2007).

Terlepas dari kesiapan kita, Ketika terjadi bencana alam, anak-anaklah yang paling rentan terkena dampaknya. Terutama sekali jika pada saat kejadian, anak-anak sedang belajar di sekolah. Gempabumi di Pakistan pada bulan Oktober 2005 menyebabkan lebih dari 16 ribu anak-anak meninggal akibat runtuhnya gedung sekolah. Longsorlahan di Leyte, Philipina menewaskan lebih dari 200 anak sekolah. Dari dua contoh kejadian tadi, seharusnya kita berupaya melindungi anak-anak kita sebelum bencana terjadi.

Anak, yang didefinisikan oleh Konvensi hak Anak PBB sebagai individu berusia 18 tahun atau lebih muda, mewakili jumlah yang signifikan dalam kelompok yang terkena dampak parah dari bencana. Pada akhir  abd 20, bencana membawa dampak pada 66.5 juta anak setiap tahun. – (Penrose and Takaki 2006). Jumlah ini berlipat tiga kali dalam decade abad 21 dengan 175 anak setiap hari terkena dampak bencana dari perubahan iklim. Dalam kenyataannya kurangya focus pada anak dalam bencana dikarenakan adanya asumsi bahwa anak tidak terkena dampak secara serius dan bereaksi sementara terhadap bencana (La Greca et al. 2002; La Greca, Silverman, and Wasserstein 1998). 

Anderson (2005) mengemukakan bahwa  penelitian sosial mengenai anak dalam bencana juga masih kurang, dan hal ini dikarenakan status sosial anak dalam masyarakat yang menempatkan anak sebagai individu yang belum bisa berperan alam fungsi kemasyarakatan. Dengan keadaan demikian anak sering tidak diperhitungkan dalam tanggap bencana maupun aktifitas di dalamnya (Anderson 2005).

 

Pada kenyataannya, anak justru mewakili kelompok rentan. Bayi dan anak kecil khususnya, secara fisik sangat rentan terhadap bencana yang tiba-tiba muncul ataupun bencana kronis. Ini dikarenakan anak masih sangat tergantung pada orang dewasa. Selain rentan fisik, anak yang sedikit berusia lebih dewasa rentan pada gangguan emosi dan psikis yang mucul akibat bencana.

 

Kita harus mengenali berbagai macam kerentanan fisik dan emosi yang diderita anak supaya kita bisa memeberikan perlindungan dan pertolongan yang sesuai. Selain itum tanpa ada focus khusus pada anak, kebutuhan khusus mereka mungkin tidak terpenuhi. Setelah bencana terjadi, kita tidak bisa berasumsi bahwa kebutuhan anak sudah terpenuhi jika kebutuhan orangtua sudah terpenuhi. Berdasarkan umur dan tahap perkembangan, anak membutuhkan dukungan fisik, sosial, mental, dan emosional yang berbeda dari orang dewasa. Terlebih bila orang dewasa juga mengalami masalah karena dampak bencana, mereka mungkin tidak bisa memberikan bantuan dan dukungan keamanan dan keselamatan pada anak. Anak juga tidak diuntungkan dengan ketidakmapuan mereka untuk mengartikulasikan stress dan mencari pertolongan (Silverman and La Greca 2002).

 

Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Resiko Bencana (World Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’ memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan resiko terhadap bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.

 

Kondisi Anak Pasca Bencana

Sabtu, 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi yang berpusat di Yogyakarta. Gempa yang berkuatan 5,9 Skala Richter ini menimbulkan korban jiwa dan bangunan fisik yang tidak

sedikit. Proses tanggap darurat segera dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat

untuk membantu korban bencana.

…pada hari-hari awal, anak-anak di sini ya hanya makan mie saja…itu pun kalo’ ada;

tapi di hari ketiga ini di dapur umum sudah masak makanan yang lebih bergizi bagi

anak walau hanya sekali sehari…selebihnya yaa cuman makan mie atau nasi bungkus

bantuan. Bantuan pakaian banyak, tapi untuk orang dewasa saja…untuk anak,

khususnya balita, sangat sedikit sekali.

 

Penuturan salah seorang penduduk di Kabupaten Bantul yang menjadi korban bencana

gempa ini menunjukkan bahwa bantuan bagi anak pada proses tanggap darurat bencana sering diandaikan sama seperti kebutuhan orang dewasa.

 

Anak di tempat tinggal Darurat

Para pengungsi menempati tenda-tenda darurat yang mereka buat menggunakan bahan-bahan sisa reruntuhan bangunan seperti kayu, seng, bilik bambu atau plastik. Anak dan perempuan tidur dalam tenda yang sama; sedang laki-laki dewasa menempati tenda yang berbeda. Tempat pengungsian ini berada di pinggir jalan, di ujung-ujung kampung, atau di lapangan terbuka. Walau sudah menggunakan tikar atau terpal sebagai alas lantai, akan tetapi kalau hujan pasti menggenang. Tiga malam pertama pasca gempa turun hujan lebat, sehingga para pengungsi berdiri sampai hujan reda dan tanah kering; sedangkan anak-anak digendong oleh orang tua mereka.

 

Di daerah Bambanglipuro anak dan lansia tinggal dalam bak belakang truk dengan alas

terpal; di mana mereka tidur di tempat itu dengan alasan untuk memudahkan untuk

evakuasi jika ada bencana susulan. Di Seloharjo (Pundong) anak dan lansia tinggal

kandang peternakan ayam; di mana kondisi itu ditemukan juga di Ganjuran (Samas).

Bantuan tenda sudah mulai berdatangan, akan tetapi kebutuhan untuk melindungi bayi

dan balita masih sangat kurang sekali.

 

Anak-anak di Pulokandang tinggal dalam tenda-tenda darurat; di mana mereka tinggal bersama ibu mereka. Dalam 1 tenda ukuran 2×7 m2 digunakan oleh 4-6 KK atau sekitar

8-16 orang yang terdiri atas anak-anak dan ibu-ibu. Di beberapa tempat ada tenda ukuran 3×4 m2 yang dihuni sampai 12 orang. Tenda darurat tersebut tidak tertutup rapat dengan alas tikar dan plastik. Di daerah Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul yang berdekatan dekat kota Yogyakarta; masyarakat yang berada di tepi sungai membuat tempat perlindungan darurat di dekat rumah mereka. Anak-anak ada yang tidur dalam tempat tidur yang bagian atas diberi plastik sebagai peneduh. Anak yang tidur di sini sebanyak tiga orang anak beserta ibunya.

 

Kondisi MCK yang tanpa penerangan yang memadai ini membuat anak harus diantar oleh orang tuanya apabila ingin menggunakan fasilitas ini. Kondisi MCK yang gelap dan masih serba darurat membuat anak perempuan menjadi tidak aman dan nyaman; di mana satu MCK bisa digunakan untuk 5-8 KK, bahkan kapasitas tersebut lebih banyak pada tempat penampungan yang berada di pinggir jalan.

 

Ketika terjadi bencana gempa bumi, setiap orang merasakan gunjangan dan shoc terapi yang dahsyat dalam dirinya. Dapat kita bayangkan apabila hal tersebut dirasakan oleh anak-anak, dan disaat itu juga mereka melihat didepan mata kepalanya jenazah ayah, ibu atau adik dan kakaknya tewas akibat robohnya bangunan atau air tsunami yang menghantam deras. Sungguh keadaan yang akan selalu teringat dalam sejarah hidupnya kelak. Hal inilah yang dapat mempengaruhi kejiwaan anak pasca bencana. Berdasarkan pengalaman dilapangan. butuh waktu 3 – 5 bulan untuk dapat mngembalikan keceriaan anak-anak. Hal itupun harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan dalam membimbing anak dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan.

 

Dampak bencana pada Anak – Deteksi Dini dan Faktor Resiko

Dalam menjelaskan dampak bencana, perlu dipertimbangkan interseksi antara indikator sosial dan indikator lingkungan seperti kemungkinan resiko bencana, kualitas tempat tinggal lingkungan yang terbangun, status sosial ekonomi, genderm etnik, umur status kesehatan, pekerjaan, pendidikan, jaringan sosial, kemampuan akses, dll (Cutter, Boruff, and Shirley 2003). Dalamhal ini yang termasuk kategori rentan adalah orang miskin, perempuan, etnis minoritas, lansia, dan terlebih anak. Kelompok ini dikategorikasn sebagai kelompok yang rentan pada kerusakan, kehilangan, penderitaan, dan kematian dalam bencana (Wisner et al. 2004).

 

Anak mengalami kecemasan dan ketegangan yang dirasakan oleh orang dewasa di sekitarnya. Dan seprti orang dewasa, anak mengalami perasaan yang tidak berdaya dan tidak dapat mengonrol stres yang ditimbulkan oleh bencana. Tapi tidak seperti orang dewasa, anak mempunyai pengalaman yang sedikit untuk membantu mereka meletakkan situasi mereka saat ini ke dalam suatu perspetif. Children sense the anxiety and tension in adults around them.

Setiap anak mempunyai respon yang berbeda terhadap bencana, tergantung pada pemehaman dan pengerian mereka, tetapi sangatlah mudah melihat bahwa peristiwa seperti ini dapat menciptakan kecemasan yang luar biasa pada semua anak karena mereka berpikir bahwa bencana adalah sesuatu yan mengancam dirinya dan orang yang mereka sayangi.

Table 1. Jenis Kerentanan yang dialami anak dalam bencana

 

Kerentanan

Psikologis

Kerentanan

Fisik

Kerentanan

Pendidikan

• PTSD

• Depresi

• Kecemasan

• Gangguan emosional

• gangguan tidur

• Keluhan somatis

• Masalah perilaku

• kematian

• cacat, luka, penyakit

• kurang gizi

• Stress karena suaca

• pelecehan fisik dan seksual

  • sekolah berhenti
  • prestasi rendah
  • perkembangan tertunda

 

 

 

Deteksi Dini : Kerentanan Psikologis

Terpisah dari keluarga pada saat terjadi dan sesudah bencana, kehilangan orangtua ataupun orang yang disayangi, tinggal dalam lingkungan asing, menimbulkan gangguan psikis yang tanda-tandanya dapat dikenali dari uraian di bawah ini.

 

 

Kerentanan Psikologis Pada Anak Pra sekolah

Tanda-tanda anak pra sekolah (1-4 tahun) mengalami gangguan psikis adalalah adanya perilaku ngompol, gigit jempol, mimpi buruk, kelekatan, mudah marah, temper tantrum, perilaku agresive hiperaktif, ”baby talk” muncul kembali ataupun semakin meningkat intensitasnya (Norris et al. 2002).

Kerentanan psikologis Anak Usia Sekolah (5-12)

Anak usia ini menunjukkan adanya reaksi ketakutan dan kecemasan, keluhan somatis, gangguan tidur, masalah dengan prestasi sekolah, menarik diri dari pertemanan, apatis, enggan bermain, PTSD, dan sering bertengkar dengan saudara (Mandalakas, Torjesen, and Olness 1999).

 

Kerentanan Psikologis Anak Usia 13 – 18 tahun

Pada remaja, kejadian traumatis akan menyebabkan berkurangnya ketertarikan dalam aktifitas sosial dan sekolah, anak menjadi pemberontak, gangguan makan, gangguan tidur, kurang konsentrasi, dan mengalami PTSD dan dalam resiko yang besar terkena penyalahgunaan alkohol ataupun prostitusi.

 

Deteksi Dini: Kerentanan Fisik

Anak tidak saja secara emosi rentan pada efek bencana, mereka juga secara fisik sangat lemah terhadap dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Lebih dari 18,000 anak meninggal pada gempa di pakistan(International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies 2007), dan tsunami 2004 di samudra Hindia menyebabkan 60.000 anak meninggal(Oxfam International 2005). Jenis bencana juga mempengaruhi kerentanan fisik anak. Misalnya bayi di amerika pada bencana badai Katrina banyak yang meninggal karena suhu yang terlalu panas, sedangkan di beberapa tempat di Rusia, banyak remaja yang meninggal karena kedinginan Anak yang tinggal dalam lokasi yang rawan bencana berpotensi tinggi untuk meninggal ataupun menjadi cacat, misalnya akibat terkena tsunami, atau terperangkap dalam reruntuhan tembok sekolah.

 

Selain kematian dan cacat yang diakibatkan oleh bencana, anak yang tinggal dalam lokasi pengungsia ataupun darurat, sangat rentan terhadap berbagai penyakti epidemic seperti diare, malnutrisi, penyakit pernapasan, dan penyakit kulit. Akses air bersih dansanitasi yang kurang membuat bayi sangat mudah terkena diare. Deteksi dini bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan terhadap perubahan kondisi kesehatan anak.

 

Kesehatan reproduksi anak perempuan juga suatu hal yang perlu dicermati. Usia yang secara biologis mulai matang membutuhkan piranti tersendiri utnuk bisa hidup secara sehat.

 

Faktor sosial juga menimbulkan kerentanan fisik pada anak. Dalam keadaan stress orang tua ataupun lingkungan lebih mudah mengekspresikan emosinya pada individu yang lebih lemah, dalam hal ini anak. Banyak ditemui di kamp pengungsian bahwa anak dieprlakukan sebagai subyek kekerasan yang dilakukan oleh orangtuanya. Luka-luka di bagian tubuh maupun perilaku menarik diri menjadi tanda penting adanya kemungkinan kekerasan fisik pada anak.

 

Deteksi Dini: Kerentanan Pendidikan

Banyak akses pendidikan yang hilang akibat bencana. Selain infrastruktur pendidikan yang hancur, banyak guru ataupun tenaga pendidik yang mengungsi, akibatnya pendidikan tidak bisa berjalan. Anak terpaksa tidak sekolah dalam jangka waktu tertentu ataupun malah berhenti. Meskipun diadakan sekolah darurat, dan juga kampanye untuk kembali bersekolah, banyak orangtua yang masih enggan mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di sekolah relokasi karena mereka belum tahu kepastian tempat tinggal mereka. Pada masyarakat dengan kultur budaya patriarki yang kuat dimana anak perempuan lebih diarahkan untuk mengerjakan pekerjaan domestic, angka putus sekolah untuk anak perempuan lebih tinggi. Angka putus sekolah yang tinggi menjadi tanda rentannya intervensi pendidikan anak paska bencana.

 

 

Faktor Resiko Anak Paska Bencana

Selain dampak psikologis dan fisik, ada beberapa factor lain yang mempengaruhi “wellbeing” anak paska bencana, Faktor resiko lainya yang mempengaruhi anak adalah:

  1. kematian orangtua atau orang yang dicintai anak

Dalam kasus bencana tsunami Aceh, dimana banyak orangtua dan keluarga yang meninggal, anak perempuan sangat rentan terhadap praktek prostitusi, kawin muda, dan menjadi subyek pelecehan seksual. Perdagangan anak juga menjadi isue santer paska bencana ini, dimana anak yang tidak punya orangtua disalahgunakan oleh pihak yang bertanggungjawab untuk kepentingan lembaga tersebut.

  1. nonintegrated family – separated children

Pada saat terjadinya bencana banyak anak yang terpisah dari orangtuanya. Banyak dari mereka tidak mengetahui keberadaan orangtua, anak batita dan balita adalah anak dalam kategori berisiko tinggi dalam hal ini karena mereka belum bisa menjelaskan jatidiri mereka, seperti nama orangtua, asal-usul, dsb. Anak-anak ini kebanyakan dipelihara oleh orang yang menemukan mereka atau tinggal dalam lingkungan pengungsian tanpa perlindungan.

  1. Kehilangan ”sense” of normality secara mendadak

Kehilangan rumah, masyarakat, dan juga teman tempat anak tumbuh dalam lingkaran kehidupan sehari-hari menjadikan anak hidup dalam situasi yang “tidak normal”. Kondisi pengungsian yang sama sekali berbeda dari lingkungan normal anak menjadi factor resiko bagi anak yang harus beradaptasi secara mendadak. Perubahan situasi yang baru merupakan stressor bagi anak yang biasanya tumbuh dalam lingkungan yang memberinya rasa nyaman.

Berikut adalah ringkasan faktor resiko yang mempengaruhi kerentanan anak dalam bencana

Table 2.  faktor yang mempengaruhi kerentanan anak dalam bencana

 

Kerentanan

Psikologis

Kerentanan

Fisik

Kerentanan

Pendidikan

• Ancaman

• keluarga terpisah

• kematian orangtua

• kehilangan materi

• kerusakan rumah atau sekolah

• Ekspose langsung oleh media

* Karakteristik anak (umur, gender, ras, dll)

• Minimnya persiapan tanggap bencana

• Stress orangtua

• rendahnya dukungan sosial

• adanya stressor tambahan

• ketrampilan “coping” randah

• kurangya dukungan “coping”

• Pengungsian

• Hidup dalamkomunitas miskin

* hidup di daerah rawan bencana

• Bersekolah di sekolah dibawah standar keslamatan bangunan

• kehilangan orangtua

• keluarga terpisah

• Karakteristik anak (umur, gender, ras, dll)

• Size, strength, stage of

development

• stress orangtua

• lingkungan shelter yang tidak sehat

• Rusaknya bangunan sekolah

• Guru dan siswa yang mengungsi

• kehilangan catatan penting

• tertundanya masuk sekolah

• perubahan sekolah

• lingkungan sekolah yangtidak ramah

• prestasi rendah

• kehilangan orangtua

• permintaan pekerrjaan yang meningkat

 

 

Intervensi Anak Paska Bencana : Protective Factors and early detection

Factor utama dalam mengusahakan ‘wellbeing” anak dan keluarga adalah dengan mengadakan identifikasi dini, mengidentifikasi kebutuhan dan juga merencanakan pendampingan psikologis bagi orangtua, wali anak dan anak sendiri. Faktor-faktor protektif yang mengurangi efek negative diantaranya:

  1. adanya dukungan sosial
  2. adanya informasi yang memadai
  3. ketersediaan layanan pemulihan
  4. adanya master plan dari bencana yang lalu (yang pernah terjadi sebelumnya)
  5. keluarga yang terintegrasi
  6. hubungan yang dekat dengan wali anak
  7. pembangunan kembali kebiasaan sehari-hari “return to sense of normalcy” anak.

 

Tindakan intervensi pertama yang dilakukan untuk meminimalisasi dampak factor resiko dan factor kerentanan adalah dengan memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu dengan:

  1. Intervensi kerentanan fisik

Kebutuhan fisik anak berbeda dengan kebutuhan fisik anak, dimana factor gizi sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang fisik anak. Susu formula untuk bayi tidak dianjurkan diberikan sebagai intervensi karena yang paling aman adalah ASI. Kebutuhan kesehatan reproduksi anak perempuan yang menjelang akhil balik perlu diperhatikan. Imunisasi untuk bayi juga menjadi standar pemberian intervensi pasca bencana untuk mencegah bayi terkena penyakit komplek yang sangat rawan terdaat di lingkungan tempat tinggal darurat.

  1. Intervensi kerentanan psikologi

PTSD perlu mendapatkan penanganan dan pendampingan khusus. Kegiatan psikososial di tempat tinggal darurat membantu anak menghadapi kerentanan psikologis yang dialami anak. Salah satu kebutuhan dasar anak adalah bermain, maka dari itu perlu dibuat suatu area yang aman untuk anak di setiap tempat tinggal darurat (safe play area – child friendly area). Di area ini anak bebas bermain tanpa rasa takut karena memang dibuat khusus untuk anak.

  1. Intervensi kerentanan Pendidikan

Sekolah darurat ataupun sekolah rujukan perlu diadakan untuk menjaga kesinambungan pendidikan yang sudah dijalani anak sebelumnya sehingga pendidikan anak tidak terhenti di jalan.

  1. Intervensi Perlindungan Anak

Salah satu praktek perlindungan anak yang dilakukan dalam rangka tanggap bencana tsunami Aceh 2004 adalah adanya program pengembalian anak ke keluarga dan usaha untuk menyatukan keluarga, memfasilitasi kembalinya anak ke sekolah dan rumah dan menangani keamanan dan keslamatan anak yang terkait di dalamnya. Termasuk di dalamnya adalah perlindungan anak dari perdagangan anak, obyek pelecehan seksual, dan kekerasan fisik yang dialami anak dalam situasi keluarga yang penuh dengan ketegangan.

 

Untuk memperkuat factor perlindungan karena bencana, disarankan adanya kolaborasi dan kerjasama antara lembaga yang berbeda yang dibentuk oleh kewenangan local dan pemuka masyarakat.  Usaha ini akan menciptakan kekuatan yang unik dalam masyrakat yang dapat mereduksi rasa tidak berdaya dan meningkatkan kesadaran masyrakat. Pemimpin masyarakat yang potensial seperti pekerja kesehatan, pemerintah daerah, guru, diberi pelatihan mengenai persiapan tanggap bencana. Masyarakat membuat struktur dan sistem untuk tanggap bencana.

Bencana dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain:

(1) menggalakkan dimasukkannya pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana sebagai bagian yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2015 untuk Pendidikan bagi Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable Development);

(2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan resiko tingkat lokal dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lanjutan;

(3) menggalakkan pelaksanaan program dan aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir efek bahaya;

(4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang pengurangan resiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para perancang pembangunan, manajer tanggap darurat, pejabat pemerintah tingkat lokal, dan sebagainya;

(5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan menghadapi bencana;

(6) memastikan kesetaran akses kesempatan memperoleh pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan

(7) menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan resiko bencana.

 

Prevensi: Disaster Risk Reduction At school

Ada pengalaman menarik tentang peran anak-anak dalam mengurangi korban tsunami Desember 2004. Seorang gadis kecil dari Inggris bernama Tilly yang mendapatkan pelajaran tanda-tanda tsunami dari guru geografinya telah menyelamatkan banyak orang yang sedang berlibur di pantai barat Thailand. Seorang anak laki-laki kecil bernama Anto yang tinggal di Pulau Simeulue mendapatkan pelajaran dari kakeknya tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempabumi di laut. Bersama seluruh penghuni pulau itu,

mereka berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Masyarakat di seluruh dunia berpandangan bahwa anak-anak menghadirkan harapan masa depan. Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda, yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

Untuk alasan itulah dilakukan ‘Kampanye Pendidikan tentang Resiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’ yang dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for Disaster Reduction) hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. Pada saat bencana, gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah dan guru yang sangat berharga dan macetnya kesempatan memperoleh pendidikan sebagai dampak bencana. Pembangunan kembali sekolah memerlukan waktu yang tidak sebentar dan pastilah sangat mahal.

Pendidikan kebencanaan di sekolah dasar dan menegah membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan hidup dan perlindungan anggota masyarakat pada saat kejadian bencana. Menyelenggarakan pendidikan tentang resiko bencana ke dalam kurikulum sekolah sangat membantu dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat. Sebagai tambahan terhadap peran penting mereka di dalam pendidikan formal, sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-mengajar setelah kejadian bencana.

Sasaran utama kampanye ini adalah mempromosikan integrasi pendidikan tentang resiko bencana dalam kurikulum sekolah di negara-negara yang rawan bencana alam dan mempromosikan konstruksi yang aman dan penyesuaian gedung sekolah yang mampu menahan bahaya. Untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan langkah-langkah yang tepat dengan cara mempromosikan praktek terbaik yang menunjukkan bagaimana bermanfaatnya pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah bagi masyarakat yang rentan. Berupaya melibatkan para pelaku pada berbagai tingkatan untuk menyampaikan pesan kampanye tersebut. Mendorong kepekaan anak-anak sekolah, orangtua, para guru, para pengambil kebijakan di tingkat lokal hingga internasional, dan organisasi kemasyarakatan untuk mempengaruhi kebijakan tentang pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru, pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional, pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan antara lain:

(1) pendidikan tentang resiko bencana menguatkan anak-anak dan membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam masyarakat;

(2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian bencana alam; dan

(3) pendidikan tentang resiko bencana dan fasilitas keselamatan di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium.

Hasil yang diharapkan adalah pemerintah pusat dan daerah menanamkan investasinya dalam fasilitas bangunan sekolah tahan bencana dan mengarahkan kurikulum pendidikan tentang resiko bencana secara nasional; (2) meningkatkan kesadaran sebagai dampak positif adanya pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah; dan (3) peningkatan aksi dan penggunaan praktek-praktek yang baik untuk mengerahkan koalisi dan kemitraan, membangun kapasitas sumberdaya yang ada untuk mengadakan pelatihan pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

 

Penutup

Bencana berdampak pada perkembangan anak, tidak saja merusak kegiatan dan kebiasaan sehari-hari anak, bencana mengakibatkan tertundanya sekolah dan akhirnya perkembangan pendidikan anak, kesempatan sosial anak, dan meningkatnya tekanan pada stress hidup sepeerti penyakit, kekerasan keluarga, dan alcohol. (Silverman and La Greca 2002). Bencana juga mengakibatkan anak terpisah dari orangtuanya, dari anggota keluarga, dan juga temannya. Mengakibatkan kematian orang-orang yangdicintai dan akhirnya memaksa anak untuk tinggal dengan lingkungan yang tidak familiar bahkan tidak bisa menerima mereka. Efek negative ini jelas mempunyai pengaruh yang buruk dagi kesehatan fisik dan emosioal anak sebagai “well being”.

 

Meskipun anak mempunyai kerentanan tinggi terhadap bencana, mereka bukan korban yang pasif. Anak dan pemuda dapat secara aktif terlibat dalam kegiatan tanggap bencana di sekolah, dirumah an di masyarakat untuk meminimalkan resiko yang mungkin akan mereka hadapi dalam bencana. Memasukkan ”disaster risk reduaction” di sekolah adalah cara yang bagus untuk menjangkauketerlibatan anak. Anak-anak ini akan saling berkomunikasi mengenai informasi resiko dengan teman sebaya dan anggota keluarga. I Untuk mendidik anak mengenai bencana dan melibatkan mereka dalam kegiatan persiapan, materi harus disiapkan sesuai dengan umur. Materi ini dikembangkan dan diseminasi melalui media elektronik. Anak juga mungkin  mempunyai ide praktis dan kreatif dalam membantu keluarga dan masyarakat sekitar untuk pulih dari bencana. Bencana menghancurkan ruang fisik anak dalam tumbuh belajar dan bermain – rumah mereka, lingkungan sekitar, sekolah, taman dan tempat bermain. Namun demikian orang dewasa jarang bertanya pada anak mengenai bagaimana mereka menginginkan ruang fisik mereka dibangun.Sistem dapat dibangun untuk melibatkan suara anak dalam pengambilan keputusan ini. Ada perbedaan antara “mendengarkan” anak berbicara dan menyimak apa yang mereka katakan.   

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1075879180,61280

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/utama/836651.htm

 

http://www.nasponline.org.  Helping Children After a Natural Disaster.htm

 

Janine M. Schroeder, MA;1 Melissa A. Polusny, PhD2 (2004) Risk Factors for Adolescent Alcohol Use Following a Natural Disaster http://pdm.medicine.wisc.edu Prehospital and Disaster Medicine Schroeder, Polusny 123

 

Lauten, Anne Westbrook and Kimberly Lietz (2008). “A Look at the Standards Gap: Comparing Child Protection Responses in the Aftermath of Hurricane Katrina and the Indian Ocean Tsunami.” Children, Youth and Environments 18(1): 158-201. Available from: http://www.colorado.edu/journals/cye.

 

Morris, Kerry-Ann N. and Michelle T. Edwards (2008). “Disaster Risk Reduction and Vulnerable Populations in Jamaica: Protecting Children within the Comprehensive Disaster Management Framework.” Children, Youth and Environments 18(1): 389-407. Available from: www.colorado.edu/journals/cye.

 

Plutchik, R 2003. Emotions and Life: Perspective from psychology, biology, and evolution. Washington, DC:APA

 

Ronan, Kevin R., Kylie Crellin, David M. Johnston, Kirsten Finnis, Douglas Paton and Julia Becker (2008). “Promoting Child and Family Resilience to Disasters: Effects, Interventions and Prevention Effectiveness.” Children, Youth and v fEnvironments 18(1): 332-353. Available from: www.colorado.edu/journals/cye.

 

Santrock, J.W. 1999. Life Span Development. Seventh Edition. Boston: McGraw-Hill

 

Weissbecker, Inka, Sandra E. Sephton, Meagan B. Martin, and David M. Simpson (2008). “Psychological and Physiological Correlates of Stress in Children Exposed to Disaster: Review of Current Research and Recommendations for Intervention.” Children, Youth and Environments 18(1): 30-70. Available from: www.colorado.edu/journals/cye.

~ by Novina Suprobo on June 16, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: