Teori Perkembangan Moral II

B.     KOHLBERG

 

Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam wawancara, anak-anak diberi serangkaian cerita di mana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Setelah membaca cerita, anak-anak yang menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral.

Berdasarkan penalaran-penalaran yang diberikan oleh responden dalam merespons dilema moral, Kohlberg percaya terdapat tiga tingkat perkembangan moral, yang setiap tingkatnya ditandai oleh dua tahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

 

Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional

Penalaran prakonvensional (preconventional reasoning) adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral – penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal.

 

Tahap 1

Orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat.

 

Tahap 2

Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.

 

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional (conventional reasoning) ialah tingkat kedua atau tingkat menengah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, internalisasi individual ialah menengah. Seseorang menaati standar-standar  (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal), seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.

 

 

 

 

 

Tahap 3

Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang “perempuan yang baik” atau seorang “laki-laki yang baik”.

 

Tahap 4

Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

 

Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional ialah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.

 

Tahap 5

Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting daripada hukum.

 

 

 

 

Tahap 6

Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini, seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Bila menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.

 

Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia:

ü      Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional.

ü      Pada awal masa remaja, mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.

ü      Pada awal masa dewasa, sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional.

 

Pada suatu investigasi longitudinal 20 tahun, penggunaan tahap 1 dan 2 berkurang. Tahap 4, yang tidak muncul sama sekali dalam penalaran moral anak berusia 10 tahun, tercermin dalam 62 persen penalaran moral manusia berusia 36 tahun. Tahap 5 tidak muncul sampai usia 20 hingga 22 tahun dan tidak pernah dialami lebih dari 10 persen individu.

Dengan demikian, tahap-tahap moral muncul agak kemudian dari yang dibayangkan semula oleh Kohberg, dan tahap-tahap yang lebih tinggi, khususnya tahap 6, benar-benar sangat sulit untuk dipahami. Baru-baru ini tahap 6 dibuang dari pedoman skor Kohlberg, meskipun masih dianggap sebagai sesuatu yang penting secara teoretis dalam skema perkembangan moral Kohlberg.

 

 

 

 

 

 

Kritik terhadap Kohlberg

Teori perkembangan moral Kohlberg yang provokatif tidak berlalu tanpa tantangan. Kritik mencakup hubungan antara penalaran moral dan perilaku moral, kualitas penelitian, pertimbangan yang memadai tentang peran kebudayaan dalam perkembangan moral, dan pengabaian perspektif pengasuhan.

 

1.      Pemikiran Moral dan Perilaku Moral

Teori Kohlberg dikritik karenamemberi terlalu banyak penekanan pada penalaran moral dan kurang memberi penekanan pada perilaku moral. Penalaran moral kadang-kadang dapat menjadi tempat perlindungan bagi perilaku immoral. Seperti para penipu, koruptor, dan pencuri mungkin mengetahui apa yang benar, tetapi masih melakukan apa yang salah.

 

2.      Kebudayaan dan Perkembangan Moral

Kritik lain terhadap pandangan Kohlberg ialah bahwa pandangan ini secara kebudayaan bias. Suatu tinjauan penelitian terhadap perkembangan moral di 27 Negara menyimpulkan bahwa penalaran moral lebih bersifat spesifik kebudayaan daripada yang dibayangkan oleh Kohlberg dan bahwa sistem skor Kohlberg tidak mempertimbangkan penalaran moral tingkat tinggi pada kelompok-kelompok kebudayaan tertentu. Penalaran moral lebih dibentuk oleh nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan suatu kebudayaan daripada yang dinyatakan oleh Kohlberg.

 

3.      Gender dan Perspektif Keperdulian

Carol Gilligan percaya bahwa teori perkembangan moral Kohlberg tidak mencerminkan secara memadai relasi dan keperdulian terhadap manusia lain. Perspektif keadilan (justice prespective) ialah suatu perspektif moral yang berfokus pada hak-hak individu; individu berdiri sendiri dan bebas mengambil keputusan moral. Teori Kohlberg ialah suatu perspektif keadilan. Sebaliknya, perspektif kepedulian (care perspective) ialah suatu perspektif moral yang memandang manusia dari sudut keterkaitannya dengan manusia lain dan menekankan komunikasi interpersonal, relasi dengan manusia lain, dan kepedulian terhadap orang lain. Teori Gilligan ialah suatu perspektif kepedulian. Menurut Gilligan, Kohlberg kurang memperhatikan perspektif kepedulian dalam perkembangan moral. Ia percaya bahwa hal ini mungkin terjadi karena Kohlberg seorang laki-laki, karena kebanyakan penelitiannya adalah dengan laki-laki daripada dengan perempuan, dan karena ia menggunakan respons laki-laki sebagai suatu model bagi teorinya.

 

Altruisme

Altruisme ialah suatu minat yang tidak mementingkan diri sendiri dalam menolong seseorang.

Timbal balik dan pertukaran (reciprocity and exchange) terlibat dalam altruisme. Timbal balik ditemukan di seluruh dunia manusia. Timbal balik mendorong anak-anak untuk berbuat baik kepada orang lain sebagaimana mereka mengharapkan orang lain berbuat yang sama kepada mereka. Sentimen-sentimen manusia disarikan dalam timbal balik ini. Barangkali kepercayaan adalah prinsip yang paling penting dalam jangka panjang dalam altruisme. Rasa bersalah dapat muncul di permukaan kalau anak tidak membalas (melakukan timbal balik), dan kemarahan dapat terjadi kalau seseorang tidak melakukan timbal balik. Tidak semua altruisme dimotivasi oleh timbal balik dan pertukaran, tetapi interaksi dan reaksi dengan orang lain dapat menolong kita memahami hakekat altruisme. Keadaan-keadaan yang paling mungkin melibatkan altruisme ialah emosi yang empatis terhadap seseorang yang mengalami kebutuhan atau suatu relasi yang erat antara dermawan dan penerima derma.

William Damon menggambarkan suatu urutan perkembangan altruisme anak-anak, khususnya berbagi (sharing). Hingga usia 3 tahun, berbagi dilakukan karena alasan-alasan yang nonempatis; pada kira-kira 4 tahun, kombinasi kesadaran empatis dan dukungan orang dewasa menghasilkan suatu rasa kewajiban untuk berbagi; pada tahun-tahun awal sekolah dasar, anak-anak mulai secara sungguh-sungguh memperlihatkan gagasan-gagasan yang lebih obyektif tentang keadilan. Pada masa ini prinsip keadilan mulai dipahami; pada tahun-tahun pertengahan dan akhir sekolah dasar, prinsip-prinsip prestasi dan kebajikan dipahami.

 

REFERENSI

 

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, Siti Rahayu. 2006. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Muhibbin S. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

Santrock, John W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Edisi 5, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

 

~ by Novina Suprobo on June 18, 2008.

4 Responses to “Teori Perkembangan Moral II”

  1. tau cara skoring tes DIT tak????
    tes baku yang buat ngukur panalaran moral????
    kalo teori penalaran moral itu ada dibuku apa????
    mohon bantuannya yawh………
    dibales lewat mail ajah, ma’acih….tararengkyu…..

  2. ak sih g tw,,soalnya ak jg bth,,btw dah dpt lum,,klo udah kbr-kbr ya,,,hub ak 085640633827

  3. hoe can i remember all levels in kohlberg’s theory…

  4. sangat membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: