Arundhati Roy: Memanusiakan Dunia dengan Kata dan Aksi

Oleh: Donny Gahral Adian*

Bertahun-tahun kemudian, ketika Rahel kembali menyambangi sang sungai, sungai itu menyapanya dengan senyum kematian yang menyeramkan, dengan lubang bekas gigi, dan tangan lumpuh terangkat dari tempat tidur rumah sakit…

-Arundhati Roy, The God of Small Things-

”Para filsuf telah menafsirkan dunia, namun yang paling penting mengubahnya” begitu kata-kata Marx yang termasyhur. Sebuah kalimat sederhana namun penuh makna. Gugatan tajam terhadap filsuf, ilmuwan yang kerjanya berteori tentang dunia tanpa sedikit pun digayuti keberpihakan dan komitmen praksis.

Di mana posisi sastrawan? Sastrawan, menurut hemat saya, berfungsi menghapus jarak logis sekaligus menciptakan persetubuhan rohani antara kenyataan dan pengamat. Berbeda dengan filsuf dan ilmuwan, sastrawan menjelaskan kenyataan dengan keterlibatan batin yang kental. Sastrawan memotret dunia secara emosional-berpihak. Kutipan di atas membuktikan perbedaan tersebut. Polusi tidak digambarkan dengan kalkulasi-kalkulasi dingin matematis melainkan sarat dengan emosi getir nan mencekam. Sastrawan adalah penjaga denyut peradaban dari beku modernisme yang mengubah segalanya menjadi angka, rumus, dan mesin.

Arundhati Roy dikenal banyak kalangan sebagai seorang Sastrawan. Seorang novelis, persisnya. Meneruskan tesis Marx, Roy tidak berhenti pada “menjelaskan kenyataan” melainkan juga memikirkan bagaimana mengkonkretkan keterlibatan batinnya dalam aksi. Perempuan berkebangsaan India ini dikenal sebagai aktivis yang rajin menggugat kebijakan-kebijakan yang merampas hak kaum papa dan tidak ramah lingkungan. Tulisan berikut ini akan bercerita tentang pergulatan Arundhati Roy dalam membela “small things”. Pergulatan seorang novelis sekaligus aktivis. Siapakah Arundhati Roy?

“Manusia adalah produk lingkungannya”, begitu kata sebagian orang. Begitu juga Arundhati Roy. Ia lahir di Ayemenem, sebuah kampung kecil di Provinsi Kerala, India. Kerala adalah tempat bertemunya Kristen, Hindu, Islam dan Marxisme. Empat gagasan besar yang saling bersitegang sekaligus mempengaruhi satu sama lain. Sebuah adonan gagasan yang turut melumuri kehidupan Roy. Meski, seperti diakuinya sendiri, Marxisme adalah gagasan dominan yang mengiringi proses pendewa-saannya.

Roy dibesarkan dalam keluarga multikultural. Ayahnya adalah seorang asal Bengali beragama Hindu sedang ibunya adalah orang asli Kerala ber-agama Kristen.

Sayangnya, perkawinan campur tersebut tidak berjalan mulus dan berakhir pada perceraian. Sebuah momen pahit dalam kehidupan Roy.

Ia kemudian dibesarkan oleh ibunya, seorang yang diakuinya memiliki andil cukup besar dalam membentuk kepribadiannya. Ibunya adalah sosok super mandiri sehingga dikategorikan anomali berdasarkan norma-norma patriarkis masyarakat Kerala. Meskipun demikian, nama sang ibu sangat harum merebak ke seluruh penjuru Kerala. Keharuman yang didapatkannya dari memenangkan gugatan publik terhadap hukum waris Kristen-Siria yang tidak adil terhadap perempuan. Ibunya juga menjalankan sebuah sekolah alternatif bernama Corpus Christi. Sebuah tempat di mana Roy mengembangkan intelektualitasnya bebas dari segala aturan pedagogis formal.

Pada usia 16 tahun, Roy meninggalkan rumah dan hidup dalam pemukiman Ilegal di New Delhi. Dia hidup dari menjual kaleng bekas bir. Sebuah kehidupan yang keras namun mendekatkannya pada yang papa dan jelata. Dengan kerja keras, ia berhasil diterima di Delhi School of Architecture guna mewujudkan cita-citanya menjadi arsitek. Di sana ia bertemu seorang mahasiswa pria bernama Gerard Da Cunha yang kemudian dinikahinya. Sebuah pernikahan yang berjalan selama empat tahun sebelum berakhir pada perceraian.

Usai perceraiannya dengan Gerard, Roy bekerja pada sebuah institusi yang mengurus persoalan urban. Roy mengawali babakan baru dalam hidupnya setelah bertemu dengan produser film bernama Pradeep Krishen. Krishen menawarinya sebuah peran kecil yang membawanya masuk ke dunia perfilman. Roy pun mulai mengembangkan talentanya sebagai penulis skenario. Ia pernah bersama dengan Krishen merancang 26 episode drama televisi yang karena kekurangan dana hanya ditayangkan empat episode. Sebuah kegagalan yang membuat Roy sangat kecewa. Namun, kekecewaannya kemudian terobati setelah bertemu dengan Bhaskar Ghose, direktur Doodarshan Film Company, yang berjanji membiayai proyek film Roy. Sebuah kolaborasi yang menghasilkan film berjudul “In Which Annnie Gives it Those Ones”.

Selain menulis skenario film, Roy juga menulis kritik film. Salah satu artikelnya berjudul “The Great Indian Rape Trick” menggugat keras film tentang Phoolan Devy berjudul “Bandit Queen” yang disutradarai oleh Shekar Kapur. Film tersebut dinilai Roy sangat bias gender dengan melakukan “pembunuhan karakter” terhadap sosok Phoolan Devy. Kritik yang bukan melambungkan namanya melainkan membawanya ke pengadilan. Sebuah peristiwa yang membuat dirinya kemudian memutuskan untuk meninggalkan dunia film dan mengkonsentrasikan diri pada penyusunan novel. Keputusan yang kelak membawanya ke puncak ketenaran.

Roy, seperti ibunya, memang sosok kontroversial. Hidupnya jauh dari apa yang biasa dijalani perempuan India pada umumnya. Sebuah abnormalitas yang tidak diratapi melainkan disyukurinya. Dalam sebuah kesempatan wawancara, Roy mengatakan, “Saya bersyukur pada Tuhan karena tidak mendapatkan penmgkondisian yang biasanya dialami perempuan kelas menengah-India, saya tidak memiliki ayah sebagai sosok patriarkis, saya tidak memiliki kasta, kelas, agama, adat istiadat dan lain sebagainya. Saya pikir mungkin saya satu-satunya perempuan di India yang dinasihati ibunya, ‘apapun yang kamu lakukan, jangan menikah!’”1 Dari Novelis ke Aktivis

Roy menyelesaikan Novelnya yang ia beri judul God of Small Things pada bulan Mei 1996. Pada awalnya ia kurang begitu yakin terhadap karyanya tersebut. Novel tersebut digambarkannya sebagai “rapuh, personal dan kurang perspektif”2 . Namun, Pankaj Mishra, seorang editor penerbitan Harper Collins justru sangat menyukainya. Mishra kemudian mengirim kopi naskah Roy ke tiga penerbit Ing-gris dengan menyi-sipkan komentar: “karya terbesar sejak Novel Salman Ruhdie Mid-night’s Children”.

Intuisi Mishra terbukti benar. Penerbit Random House ber-sedia menerbitkannya. Dan mulailah masa keemasan Arundhati Roy. Novelnya meme-nangkan Booker Prize di London pada tanggal 14 Oktober 1997. Keme-nangan yang mem-buatnya bergelimang uang dan pujian.

Sementara itu, novel Roy itu sendiri menimbulkan kontroversi. Pada bulan Juni 1997, seorang pengacara bernama Sabu Thomas menggugat Roy dengan tuduhan merusak moral pembaca. Ia menuntut agar bab terakhir novel tersebut dibuang karena mengartikulasikan proses persetubuhan secara amat rinci dan gamblang. Kritik juga datang dari tokoh Marxis Kerala bernama E M S Namboodiripad. Ia menyebut karya Roy merepresentasikan literatur masyarakat borjuis yang dekaden. Bentuk-bentuk deviasi seksual dalam God of Small Things adalah manifestasi estetika borjuis, katanya. Sebuah estetika yang menyesatkan dan meracuni kesadaran.

God of Small Things, sebaliknya, adalah sebuah manifesto. Manifesto of Small Things, persisnya. Orang terbiasa menghabiskan energi pada segala sesuatu yang besar: Tuhan, Ideologi, Negara, Politik, Ekonomi dan menafikan detil-detil sederhana ranah kehidupan. Demi semua skema-skema besar itu yang kecil, lemah dan tak berdaya sering dikabutkan hingga samar. Bagi Roy yang penting adalah bagaimana membuat orang menghubungkan skema-skema besar itu dengan hal-hal sederhana dalam kehidupan. Roy sendiri mengatakan, “God of Small Things adalah buku dimana anda menghubungkan hal terkecil dan terbesar: apakah itu riak yang dibuat laba-laba di permukaan air atau kualitas cahaya bulan yang menerangi sungai, atau bagaimana sejarah dan politik menggerayangi hidup, rumah dan kamar tidur anda.”

“Fiksi adalah kebenaran” , tegas Arundhati Roy. Memang, Roy telah banyak menulis artikel politik sebelum ia menulis novel. Penting baginya untuk menghapus perbedaan antara kebenaran dan fiksi, artikel politik dan novel. Roy menyampaikan politik dalam bentuk fiksi. Dan itu membuat politik menjadi konkret. Fiksi menajamkan penglihatan kita untuk melihat relasi politis antara pengalaman batin petani yang tergusur ladangnya dengan kebijakan-kebijakan agung yang dilontarkan negara dengan dukungan lembaga donor internasional. Persetubuhan antara fiksi dan politik tampak jelas dalam novel Roy The God of Small Things. Persisnya pada sebuah citraan tentang Estha, salah satu tokoh utama, yang sedang berjalan di pinggir sungai berbau kotoran dan pestisida yang dibeli dari pinjaman Bank Dunia.

Hidup bak selebritis seusai memenangkan Booker Prize ternyata menimbulkan konflik batin yang cukup hebat dalam diri Roy. Perjalanan ke banyak negara, pesta-pesta kelas-menengah, hotel berbintang, pelayanan kelas satu semuanya itu seperti membunuh sebagian dari dirinya. Roy mulai merasa bahwa setiap tetes emosi, perasaan dalam The God of Small Things telah ia dipertukarkan dengan silver coin. Ia merasa telah terserap oleh pipa raksasa yang mensirkulasikan kekayaan dunia yang terus mengalirkan uang padanya sekaligus melukainya dengan kecepatan dan kekuatan alirannya.

Sekembalinya dari “bulan madu” di berbagai negara, Roy memasuki tingkat kesadaran baru. Kesadaran bahwa gagasan hanya memperoleh kekuatannya pada aksi. Semenjak itu ia pun memulai babakan baru kehidupannya sebagai aktivis. Sebuah kehidupan yang diabdikan pada small things—mereka yang lemah, papa, miskin yang selalu terpinggirkan.

Roy menulis esai-esai politik yang mengiris-iris tajam kebijakan-kebijakan negaranya. Dua esainya yang terkenal adalah The End of Imagination (1998) dan The Greater Common Good (1999). Esai-esai yang terangkum dalam bukunya, Power Politics. Esai yang pertama ditujukan sebagai kritik terhadap proyek nuklir India sedang kedua ditujukan pada proyek pembangu-nan waduk di lembah Narmada.

Seperti juga novelnya, esai-esai Roy juga menimbulkan kontro-versi. Kritik-kritiknya membuat sebagian orang di pusat kekuasaan yang memiliki kepen-tingan dengan proyek-proyek tersebut kegerahan. Tidak heran kalau ia kemudian memperoleh banyak tekanan dari pemerintah India. Roy, misalnya, dituduh me-lakukan contempt of court terhadap Mah-kamah Agung India. Kejahatannya adalah turut serta dalam demonstrasi menentang keputusan Mahkamah yang memberi lampu hijau bagi diteruskannya proyek pembangunan waduk di lembah Narmada. Akhirnya bisa ditebak: Roy menolak meminta maaf atas contempt of court yang ia lakukan bersama teman-temannya. Menurutnya, pelecehan terhadap pengadilan yang korup dan tidak adil bukanlah sebuah pelecehan.

Roy sangat peduli pada persoalan-persoalan ekologis sebagai dampak langsung pembangunanisme. Esainya yang berjudul The End of Imagination menggugat proyek nuklir India atas dasar ekuilibrasi manusia-alam. Proyek nuklir hanya merusak persetubuhan sistemik antara manusia-alam. Proyek tersebut membuat manusia bermusuhan dengan alam. Elemen-elemen seperti langit, udara, tanah, angin dan air akan berbalik memusuhi kita. Kota, hutan, ladang dan kampung akan terbakar berhari-hari. Sungai berubah menjadi racun, udara menjadi api dan angin menerbangkannya ke seluruh penjuru mata angin. “Nuklir membuat kita tidak lagi takut akan kematian melainkan kehidupan itu sendiri”, kata Roy. Roy juga mengungkapkan keprihatinan ekologisnya melalui The God of Small Things. Ia menggambarkan dengan cukup detil dan mencekam bagaimana kerusakan sebuah sungai akibat pencemaran.
Meski bulan Juni, dan hujan, sang sungai tidak lebih dari sekedar tempat pembuangan yang membukit. Diselimuti lapisan tipis limbah yang merentang, sesekali tampak kilat perak bangkai ikan. Ditumbuhi tanaman air yang akarnya melambai-lambai seperti kaki cumi…Tidak lebih dari sekedar pita hijau yang mengalirkan sampah ke laut. Tas plastik berwarna cerah terbang melintasi permukaannya yang ganas bagaikan bunga terbang sub-tropis.

Apa yang bisa membuat seorang novelis liris berubah menjadi aktivis? Apa yang membuat seorang meninggalkan bacaan sastranya untuk belajar hal teknis seperti irigasi dan drainase? Apa yang membuat seorang berubah dari pujaan kelas menengah India menjadi musuh nomor satu mereka? Mengapa penulis “small things” menjadi pejuang melawan “big things” seperti Nuklir, Waduk, Pemerintah India dan Globalisasi? Kenyataanlah yang memaksanya berubah. Kenyataan bahwa “small things” di negerinya diperlakukan layaknya sampah. Kenyataan yang menggugah nuraninya.
Berpihak pada yang Papa

Pembangunanisme memang sebuah ideologi yang memikat. Ia menjanjikan peningkatan kesejahteraan melalui proyek-proyek raksasa yang memobilisasi ilmu dan teknologi. Sayangnya, kilap pembangunanisme sering membuat kita silap tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Logika ideologi tersebut adalah logika utilitarian-instrumental yang senantiasa meminggirkan mereka yang lemah dan papa. Manusia tidak lagi dihargai sebagai manusia melainkan alat. Mereka bahkan tidak masuk dalam hitungan teknis ekonomis. Pendeknya, pembangunanisme adalah sinyalemen buruk bagi demokrasi partisipatoris.

Ini pula yang terjadi pada proyek pembangunan waduk di lembah Narmada. Waduk sudah menjadi impian nasional India sejak dahulu. Nehru sendiri dalam salah satu pidatonya mengatakan bahwa waduk-waduk adalah kuil India modern . Pidato Nehru tentang waduk terselip dalam setiap buku teks wajib sekolah dasar India. Setiap warganegara India sudah terjejali bahwa waduk akan mengisi penuh perut semua orang. Yang mereka tidak sadari adalah ideologi dan aliansi yang bermain di balik pembangunan waduk tersebut. Ideologi yang bermain adalah pembangunanisme yang anti demokrasi dan selalu merugikan yang lemah. Sedang aliansi di balik itu semua adalah aliansi gelap para bankir, politisi, birokrat, konsultan lingkungan, badan donor yang hidup dari denyut getir nadi kaum papa.

Waduk pertama dari rencana sekitar 3200 waduk dibangun di Madhya Paresh pada tahun 1990. Pemerintah India waktu itu mengatakan bahwa pem-bangunan itu akan memin-dahkan 70.000 keluarga dan menenggelam-kan 101 desa. Satu ketika, tanpa peringatan terlebih dahulu, pemerintah India menggenangi desa-desa menggusur 114.000 keluarga dan menenggelamkan 101 desa. Sepuluh tahun kemudian, waduk ter-sebut ternyata hanya mengairi 5 % dari luas areal yang mereka janjikan. Luas areal yang diairi waduk lebih kecil dari luas areal yang ditenggelamkan saat awal pembangunannya. Pemerintah juga lalai membangun kanal-kanal, karena bagi kontraktor dan politisi hanya waduk yang menghasilkan banyak uang.

Sebuah LSM bernama Narmada Bachao Andolan (NBA) pun dibentuk sebagai reaksi terhadap proyek pembangunan waduk di lembah Narmada. NBA adalah koalisi strategis etnis adivasis dan dalits (etnis minoritas India), kasta atas, petani kaya, dan kelas menengah. LSM tersebut menciptakan “jembatan humanis” antara masyarakat kota dan desa, antara petani, nelayan, penulis dan pelukis. Koalisi inilah yang memompa kekuatan luar biasa ke dalam NBA.

Arundhati Roy memilih LSM ini guna menyalurkan semangat aktivisnya. Ia turut menyumbangkan 30.000 US Dolar dari total hadiahnya guna membantu NBA. Ketika pertama kali Roy bertemu dengan orang-orang NBA, salah seorang anggota berkata padanya, “kami tahu bahwa anda pasti menolak pembangunan waduk dan bank dunia ketika kami membaca The God of Small Things.” Ini menunjukkan bahwa sejak masih sebagai novelis, Roy sudah menunjukkan keberpihakannya meski tersirat.

Bersama NBA, Roy melancarkan aksi-aksinya menentang pembangunan waduk. Aksi-aksi yang sering membuatnya berhadapan dengan pihak yang berwenang. Salah satu aksinya bersama NBA yang sangat spektakuler bertempat di desa di pinggir Narmada bernama Sulgaon. Sepanjang malam orang berdatangan dengan traktor, motor dan berjalan kaki. Pada pagi harinya sudah terkumpul lebih dari 5000 orang. Lautan manusia yang terdiri dari orang desa dan orang kota dari berbagai macam profesi kemudian bergerak menuju waduk secara perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara. Sebuah aksi spektakuler yang berakhir di balik jeruji penjara.

Jeruji penjara tidak mampu menelikung Roy. Keberpihakannya pada yang papa sudah mengeras dalam dirinya. Arundhati Roy sebagai novelis dan aktivis adalah sosok yang sama. Sosok perempuan yang ingin mewujudkan sebuah humane society. Seorang yang ingin mengangkat harkat dan martabat penghuni alam semesta yang dikategorikan sebagai small things.

Dalam menggambarkan apa yang terjadi dalam masyarakat, Roy sering menggunakan metafor dua konvoi truk11 . Konvoi pertama menuju ke ranah terang sedang yang lain ke ranah gelap. Konvoi truk dengan jumlah besar yang menuju ranah gelap adalah perempuan, petani, pemulung, etnis minoritas. Mereka yang bisu, samar karena tidak pernah muncul dalam media cetak maupun elektronik. Sedang mereka yang berkonvoi menuju ke ranah terang adalah mereka yang kehilangan kepekaan inderawi terhadap mereka yang bisu dan samar tersebut. Mereka tidak lagi dapat membayangkan bahwa bumi sudah membusuk, kehilangan humanitasnya dan tidak layak huni.

Roy, karenanya, mengingatkan intelektual agar sekali-kali berpaling dari buku-buku dan mengindera langsung kenyataan sosial yang muram. Mengindera dan mengerti bahwa seseorang di satu tempat nun jauh di sana bermandi keringat hingga kita dapat menyalakan lampu, mendinginkan ruangan dan menghangatkan air. Small things that is not very small after all!

*Ketua Jurusan S1 di Departemen Filsafat UI

~ by Novina Suprobo on June 21, 2008.

One Response to “Arundhati Roy: Memanusiakan Dunia dengan Kata dan Aksi”

  1. numoang baca………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: