Perjuangan Perempuan Sepanjang Masa:Dari Angkat Bedil Sampai Merambah Dunia Web

Oleh: Gadis Arivia
Perempuan telah lama mengorganisir diri di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1920 di hampir setiap kota besar terdapat organisasi-organisasi perempuan minimal organisasi berbasis keagamaan seperti Muhammadiyah yang mempunyai divisi pendidikan perempuan, Aisyiyah. Perjuangan kaum perempuan ketika itu banyak yang meliputi seputar persoalan-persoalan budaya dan sosial. Raden Ajeng Kartini (1879-1904) misalnya dikenal sebagai pejuang kesetaraan perempuan terutama dalam hal menolak poligami. Pada tahun 1928, Kongres Perempuan Indonesia menghasilkan berbagai organisasi perempuan seperti Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia, Isteri Sedar. Organisasi-organisasi perempuan awal ini lebih memfokuskan diri pada pendidikan dan peningkatan kesejahteraan perempuan.

Perjuangan lain yang menarik disimak adalah perjuangan hak untuk berpolitik bagi perempuan. Pada bulan Juni 1938, organisasi perempuan, Isteri Indonesia memutuskan untuk memperjuangkan perempuan sebagai anggota dewan di setiap kota. Pada saat itu keingingan untuk memperjuangkan perempuan sebagai anggota dewan cukup menghebohkan dan mendapatkan perhatian pers. Namun, perjuangan tersebut kandas, calon yang diajukan Maria Ulfah Santoso dan Ny. Datoe Toemanggoeng gagal. Pada tanggal 6 Agustus 1939, para perempuan berdemonstrasi memprotes diskriminasi perempuan di bidang politik. Aksi protes berlanjut hingga pada tahun 1941 di mana anggota dewan akhirnya menerima pernyataan Mohammad Yamin untuk membolehkan perempuan mempunyai hak untuk memilih. Perjuangan Kongres Perempuan Indonesia yang mempunyai anggota 30 organisasi dan ribuan anggota tidak sia-sia. Organisasi -organisasi ini pun yang turut mendukung pergerakan perjuangan Indonesia merdeka.

Sejarah bergulir banyak catatan penting yang telah digores oleh pergerakan perempuan Indonesia. Berbagai duka telah dilalui diantaranya pengejaran, pemenjaraan dan pengeksklusian anggota Gerwani di tahun-tahun 1960-an, sebuah organisasi yang dianggap pro komunis hingga perkosaan ratusan perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan 1998 di Jakarta. Isu-isu lama seperti poligami pun tidak kunjung selesai, pendidikan dan kesehatan perempuan terus hingga kini sangat rendah.

Tentu saja kemenangan-kemenangan kecil perempuan Indonesia ada yang telah diraih. Perjuangan yang memakan hampir satu abad telah menghasilkan berbagai kemajuan. Paling tidak kita saat ini telah merayakan kuota 30% untuk caleg perempuan. Walaupun perjuangan lainnya yang juga sama pentingnya seperti perlindungan TKW, UU trafiking yang tidak kunjung tiba serta UU KDRT yang sudah lima tahun mogok di meja anggota Dewan tentu membuat kita semua frustrasi apalagi dengan ketololan terakhir produk pemerintah soal revisi KUHP yang mengatur seksualitas perempuan.

Perempuan sepanjang masa selalu harus memerangi berbagai ketololan hasil budaya patriarki. Memasuki abad ke 21 sekarang pun perjuangan terus dilanjutkan. Bila dulu perjuangan perempuan diawali dengan mengangkat bedil kini dengan menggunakan informasi. Bagaimanapun bagi saya era informasi akan menguntungkan perempuan—komunikasi dan net working adalah dua permainan yang sangat dikuasai perempuan. Jadi, mari kita lanjutkan perjuangan kita bersama di website, 100 tahun lagi anak-anak perempuan kita akan menikmati hidup yang jauh lebih baik dari para ibunya, ya semoga saja.

~ by Novina Suprobo on June 21, 2008.

One Response to “Perjuangan Perempuan Sepanjang Masa:Dari Angkat Bedil Sampai Merambah Dunia Web”

  1. mari…kita pilih lagi pre4siden perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: