Trafiking dan Terminal “Mangsa”

Oleh: Nur Azizah

Pagi itu saya, bersama kru film Jurnal Perempuan berangkat menuju rumah korban trafficking di sebuah desa di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan harus kami tempuh selama 4 jam. Sepanjang perjalanan itu kami disuguhi hamparan padang rumput yang menghijau juga barisan rumah-rumah bekas pengungsi eks Timor Leste. Bahkan rumah bulat yang merupakan rumah tradisional masyarakat timur mengajak imagi kita untuk mengenal mereka lebih jauh, termasuk persoalan yang kerap terjadi di daerah tersebut.

***
Namanya Sarah. Ia adalah anak perempuan yang bertekad ingin mendapatkan hidup yang lebih baik dengan mencoba peruntungannya bekerja ke luar negeri. Malaysia menjadi negara tujuan Sarah. Kala itu usianya baru menginjak 15 tahun. Kategori usia anak-anak yang tidak selayaknya bekerja. Lantas dari mana Sarah memperoleh informasi tentang pekerjaan tersebut? “Dari adiknya bapak saya sendiri,” ujarnya polos. Ia menambahkan, dulu kan dia mau pengen ke Malaysia tapi kena tangkap jadi pulang. Katanya bukan melalui Departemen Tenaga Kerja (Depnaker). Mungkin dia juga tahu itu PT darimana. Jadi dia datang langsung saya diajak. “Katanya pergi jadi TKW itu kan bagus. Ya saya juga ikut aja, gitu. Kan masih kecil ya bilang apa aja ikut semua. Tapi kelihatannya katanya masih kecil, masih jalan 15 tahun, tapi saya paksa diri. Di paspor tertulis 25 tahun. Kita miskin cita-citanya jadi kerja lah, jadi apa aja.” Demikian penjelasan Sarah tentang awal perjalanannya ke negeri sebrang.

“Kita kan kalau malam tidurnya jam 12 bangunnya jam 3. Bangun langsung cuci baju, sapu, ngepel, cuci piring. Lalu masak air panas, masak sarapan pagi. Lalu, kalau belum pagi juga udah cuci mobil. Kalau masih malam tu kan saya takut. Jadi ngga mau keluar. Kalau udah pagi dia bangun mau pergi kerja mobilnya belum dicuci, dia marah. Kadang-kadang dia tendang, dipukul, di tempeleng. Perasaan saya tu kan, ngga mau dipukul. Kalau saya sama orang tua saya tu ngga pernah dipukul, jadi kalau dipukul orang lain ngga mau saya,” ujar Sarah sembari memainkan jemarinya.

Kendati kerap mendapatkan pukulan, tamparan dan tendangan dari majikan, Sarah tidak melawan. Ia memilih untuk diam mengingat keberadaanya yang jauh dari sanak keluarga. “Ngga mungkin saya mau ngomel, cuma saya diam saja begitu. Takut,” mata nanarnya membuat kami merasakan apa yang ia derita.

Selama 1,5 tahun Sarah bekerja diiringi “ketajaman tangan dan kaki” majikan, ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Namun setibanya di bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Sarah kembali menerima perlakuan tidak adil. “Nah baru saya dari Malaysia ke situ kan, sampai bandara itu kan saya ada telpon ke PT, pengen mau ke PT aja,” ujar Sarah. Lantas, Sarah menirukan ajakan pak Isup, “tapi kan dari anak buahnya ibu Herlina kalau orang yang dari NTT itu kan ngga boleh, katanya. Saya ikut aja. Mungkin saja ngga boleh dijemput PT lagi katanya.” Di sinilah awal penderitaan Sarah selanjutnya.

***
Kasus trafficking atau perdagangan manusia yang menimpa Sarah terjadi di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Nyatalah bahwa trafiking atau perdagangan manusia bisa terjadi dimana saja, kapan pun bahkan menjangkau siapa saja. Tidak hanya di daerah yang sarat dengan nilai-nilai religiusitasnya. Namun kenyataannya bandara juga mengalami alih fungsi. Artinya bandara tidak hanya berfungsi sebagai terminal bagi penumpang tapi juga berpeluang besar menjadi sarang perekrutan bagi perdagangan manusia.

Terminal 2 merupakan terminal kedatangan para penumpang dari luar negeri, termasuk para tenaga kerja. Para penumpang tersebut bisa melenggang melalui pintu terminal 2. Sementara para tenaga kerja harus berbalik arah menuju ruang tunggu TKI yang terletak di belakang terminal 2 tersebut. Bisa dibayangkan betapa bingung dan paniknya mereka. Beribu pertanyaan pun muncul di benak para tenaga kerja kita. Apa yang akan terjadi dengan saya? Adakah yang salah dengan saya? Bagaimana selanjutnya? Benarkah ini peraturan pemerintah? Mengapa pemerintah harus membedakan saya dengan penumpang lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang ditanyakan beberapa perempuan di bandara tersebut kepada penulis.

Identitas mereka, para tenaga kerja mudah sekali dikenali oleh petugas bandara. Mereka dibedakan berdasarkan jumlah lembar yang terdapat dalam paspor. Jumlah paspor tenaga kerja lebih sedikit dibanding penumpang lain. Hal inilah yang membuat para tenaga kerja dipaksa menuju ke ruang tunggu. Bahkan tidak jarang petugas BNP2TKI dan kepolisian bandara mengawasi mereka di sana.

Di ruang tunggu tersebut tidak jarang para tenaga kerja diperdayai oleh beberapa petugas yang terlibat di sana. Pengalaman penulis yang sempat mendatangi ruang tunggu itu adalah terjadinya penipuan yang dilakukan oleh seorang polisi terhadap tenaga kerja wanita asal Wonosobo. “Saya ada urusan sama pak polisi itu. Saya sudah membayar sesuai yang dia minta,” dengan penuh marah dan kecewa ia berkata kepada penulis. Dan saat ia akan keluar menuju gerbang bertuliskan “Selamat datang pahlawan devisa,” perempuan itu berbalik arah. “Kenapa?” tanya penulis kepadanya. “Ada petugasnya datang! Jangan-jangan nanti saya malah disekap oleh dia,” jawabnya penuh ketakutan sambil berlari masuk ke ruang tunggu. Bagaimana jika setiap hari terdapat lebih kurang 1.000 tenaga kerja yang harus singgah di ruang tunggu itu? Berapa banyak perempuan dan anak perempuan mengalami ketakutan? Berapa banyak rupiah yang berhasil mampir di kantong petugas? Berapa banyak perempuan menjadi mangsa para trafiker? dan masih banyak lagi peluang kejahatan di sana.

Ruang tunggu ini bukan muara perjalanan bagi para tenaga kerja. Dari sana para tenaga kerja akan diantar dengan bus khusus yang disediakan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), kerjasama dengan angkutan bandara menuju terminal 4 dengan nama Gedung Pendataan Tenaga Kerja, yang terletak sekitar 4 km dari bandara. Keadaan di terminal ini tidak jauh berbeda dengan ruang tunggu di bandara. Alih-alih untuk melindungi tenaga kerja, pihak BNP2TKI menyediakan mobil Isuzu Elf yang akan mengantar mereka sesuai dengan alamat pasport, bukan atas kemauan tenaga kerja. Bentuk perlindungan ini justru membuat para tenaga kerja merasa tidak nyaman dengan aturan tersebut. “Padahal saya mau singgah ke tempat keluarga di Jakarta.” Ungkapan itulah yang muncul dari beberapa perempuan .

***
Sejak dijemput oleh pak Isup, Sarah tinggal di penampungan yang ia sendiri tidak tahu jelas di daerah mana. Yang ia tahu hanya di Jakarta. “Disitu kan banyak orang. Katanya orang NTT kalau pulang tu kan lewat situ ngga usah pulang lewat PT katanya,” kata Sarah. Lebih jauh ia menjelaskan, “Satu hari kan masuk banyak kali ya. Itu tape (radio tape), trus tu HP, kamera. Namanya kita orang Timur tu kan ada perasaan gitu, jadi anggaplah itu pemaksaan ya kita beli aja. Tape-nya ada satu juta delapan ratus, HP satu juta tiga ratus, jaket yang ini seratus, celana jinsnya seratus juga. Jam tangan yang agak sama kayak kuning gitu, katanya emas itu lima puluh.”

Dari penampungan Sarah diajak anak buahnya Herlina ke Cirebon yang konon terdapat restoran dan rumah milik Herlina. Selama dua minggu lebih Sarah tinggal di sana. “Kita disitu jalan-jalan. Malam-malam juga kita boleh jalan. Dia yang suruh kita katanya. Tapi saya bingungnya kalau kita di PT itu kalau udah malam ngga boleh jalan-jalan. Tapi kalau di tempat ibu Herlina itu katanya boleh. Namanya kita punya teman ya kita jalan-jalan. Diajak, saya juga ikut jalan-jalan,” jelas Sarah sambil menekan jemarinya sebagai upaya mengatasi kegelisahannya.

Kemudian Sarah pun diajak kembali ke Jakarta dan singgah lagi di penampungan sebelumnya selama satu bulan lebih. Tidak ada yang Sarah lakukan di penampungan itu selain duduk-duduk saja. Keberadaanya selama di penampungan tersebut menimbulkan kehamilan di luar sepengetahuannya. Dan ketika penulis coba menanyakan tentang kehamilannya, Sarah seperti menutupi siapa pelaku dan dimana terjadinya.

Lantas dimana uang hasil jerih payah Sarah selama bekerja di Malaysia? Dengan muka polos Sarah menjelaskan, “Kan uangnya belum diambil ada di ibu Herlina, di Jakarta. Katanya kalau udah sampai sini satu minggu baru di kirim. Tapi kita kan udah pergi cek, kosong belum ada uang. Kan, udah berapa kali hubunginnya. Kalau dihubungin katanya udah di kirim, kalau udah pergi cek di bank ya ngga ada.”

“Kalau di Kupang saya tidak bisa ngomong. Herlina mungkin sudah mati,” ujar paman Sarah geram ketika ditemui di tempat terpisah.

Menurut pamannya, ia telah melaporkan kasus tersebut ke BP3. Bahkan ia mengupayakan mengirim laporan kedua kalinya yang ditulis sendiri oleh keponakannya, Sarah, dengan tanda tangan diatas materei dan dikirim ke BP3TKI. Namun sampai saat ini tidak ada tanggapan balik. “Jadi saya tidak tahu, dari BP3nya sudah kirim ke sana atau belum, itu saya sempat tanya ke sana. Bilang sudah tapi sampai saat ini belum ada tanggapan balik,” ungkapnya pasrah. “Jadi ya semoga pemerintah NTT dan juga pemerintah pusat bisa memperhatikan hal ini. Karena sudah banyak pengakuan, banyak yang menyesal karena mereka harus lewat terminal 3, harus diperas, harus dibuat segala macam. Dan Sarah sampai saat ini uangnya tidak ada, hilang begitu saja,” imbuhnya.

Trafiking atau perdagangan manusia bisa terjadi pada siapapun, dimana saja dan kapan pun. Tengoklah kisah perjalanan Sarah seolah menggambarkan betapa bangsa ini gagal mengatasi persoalan perempuan, termasuk persoalan buruh migran yang kerap mengarah kepada perdagangan manusia. Tengoklah kasus Sarah yang hampir tidak menyadari bahwa dirinya tengah diperdagangkan dengan tujuan seksual. Sayangnya Sarah hampir tidak menyadarinya. Pun demikian dengan keberadaan terminal di bandara justru mencerminkan bahwa negara belum maksimal menjamin hak atas warga negaranya. Dengan dalih sebagai upaya perlindungan bagi para tenaga kerja justru menimbulkan ketakutan dan kian mempertegas bahwa buruh migran laksana budak yang tengah diperjualbelikan atas nama negara.

       

~ by Novina Suprobo on June 21, 2008.

One Response to “Trafiking dan Terminal “Mangsa””

  1. Saya mampir dan membaca peristiwa yang menyedihkan ini. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: